Negeri yang Terpilih

“Itu masih belum seberapa. Mereka juga Aku takdirkan terdiri atas berbagai-bagai suku dan ras, warna kulit dan bahasa, agar mereka mengalami hidup yang begitu indah, penuh warna.”

“Kami hamba-Mu, Tuhanku, telah bersaksi atas semuanya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Itu juga masih belum seberapa. Kepada mereka juga Aku berikan agama untuk menjadi pedoman dalam mengelola hidup. Bayangkan, agama yang Aku berikan kepada mereka bukan cuma satu, tapi lima sekaligus, agar mereka bisa leluasa memilih mana yang lebih cocok dengan dirinya. Tapi apa yang terjadi?”

“Kami hamba-Mu, Tuhanku, tak sampai secuil yang kami tahu.”

“Alam yang begitu luas dan indah, yang begitu berlimpah menyimpan kekayaan, ternyata tak cuma ditelantarkan, tapi malah diacak-acak, dirusak, diperkosa dengan berbagai dalih dan cara. Dengan alam yang begitu kaya, polah mereka ternyata malah lebih busuk dibanding bangsa-bangsa yang Aku laparkan: saling merampok kekayaan antarsesama sampai kemudian mereka menjadi bangsa paling korup. Korup pada hidup!”

“Kami hanyalah hamba-Mu, Tuhanku.”

“Untuk apa mereka Aku takdirkan menjadi bangsa yang bersuku-suku dan berras-ras dengan beragam bahasanya? Agar ketika berdekatan mereka saling tergetar hatinya dan tersentuh jiwanya, sehingga muncul gairah untuk saling mengenal dan hidup bersama, saling mengisi, saling memberi. Juga saling mencintai. Bukankah itu keindahan hidup? Tapi apa lacur, justru takdir itu yang mereka jadikan alasan pembenar untuk saling mencincang, saling membunuh. Betapa dungunya mereka itu.”

Para malaikat membisu.

“Lalu apa yang kalian bilang tadi? Mereka adalah bangsa yang taat beragama? Sekarang Aku tanya, dengan cara apa mereka beragama? Dengan cara bagaimana mereka menyembah Tuhannya?”

Dan para malaikat masih terus membisu.

“Dengan cara memakainya sebagai topeng? Atau, malah dengan cara menjualnya? Mereka pikir kelima agama itu sebagai barang dagangan, bahkan sampai nama-Ku pun dijual ke mana-mana. Itu laknat!”

Para malaikat mulai merinding.

“Kalian tahu, sudah lama bangsa itu tidak pernah lagi menggunakan akal sehatnya. Jika sudah begitu, bagaimana mereka mau beragama dengan benar? Bagaimana mereka bisa mengagungkan Tuhannya? Kalian masih ingat hukum-hukum-Ku: apa yang membedakan manusia dari makhluk lain, binatang misalnya?”

“Kami hamba-Mu, Tuhanku, tak sebutir debu yang kami tahu.”

“Akal sehat! Sekali lagi, hanya akal sehat yang membuat mereka layak disebut sebagai manusia dan bahkan bisa mencapai derajat lebih tinggi dari kalian, para malaikat-Ku, jika mereka mampu menggunakan akal sehatnya dengan sempurna. Karena mereka tak lagi menggunakan akal sehatnya, maka mereka tak lagi layak disebut manusia. Bahkan, karena perilakunya telah lebih keji ketimbang binatang buas, mereka sekarang tak lebih baik dibanding iblis. Karena terikat dengan perjanjian, iblis tak akan Aku binasakan sampai hari akhir nanti. Belum saatnya. Tapi terhadap kaum manusia yang sudah seperti iblis, Aku harus segera memusnahkannya.”

“Kapankah laknat itu akan Tuhanku berikan?” salah satu malaikat memberanikan diri bertanya.

“Besok. Minggu pagi besok.”

“Tapi, Tuhanku, di sana ada seorang yang begitu suci dan begitu mencintai-Mu, sehingga kami yakin Engkau pun mencintainya. Tidakkah akan ada pengecualian?”

“Siapa dia?”

“Cut Mala, Tuhanku.”

“Ya, dia kekasih-Ku. Apa yang dia inginkan?”

“Hamba, Tuhanku. Dia selalu memohon agar dialah yang menanggung kutuk bangsanya seorang diri.”

“Kenapa begitu?”

“Hamba, Tuhanku. Sudah berbulan-bulan hamba menyertai perempuan suci itu. Dia tinggal di Serambi Mekah. Sepertinya dia sudah tahu bahwa Tuhanku akan segera melaknat bangsanya. Karena itu, setiap saat, terutama ketika semua orang sedang tidur lelap, dia selalu terjaga. Perempuan itu sudah seperti penjaga malam. Sepanjang malam dia terus bersujud, menangis, dan memohon. Pintanya cuma: jangan binasakan bangsa Indonesia, biar dia seorang diri yang menanggung laknatnya.”

“Ya, coba panggil dia ke sini.”

Sang malaikat pun tersentak. Kaget. “Dipanggil, Tuhanku? Seperti Engkau memanggil Muhammad?”

“Ya. Bukankah orang-orang suci juga akan seperti para nabinya?”

“Hamba abdi-Mu, Tuhanku, tak pernah mangkir dari perintah.”

Tinggalkan Balasan