Ngaji Wayang: Jejak Peninggalan Wali Songo

Setiap dari cerita lakon wayang memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tinggi. Seperti: “Durno Kajarwo” yang mengingatkan, bahwa setiap hawa nafsu akan menjerumuskan orientasi manusia ke dalam kehancuran. Juga lakon “Pandawa Mukso,” yang menceritakan perjalanan akhir spritual para pandawa. Artinya, lakon tersebut menuntun kita untuk senantiasa melakukan mukso (menahan diri) dari hal-hal buruk, agar memperoleh akhir yang baik (khusnul khatimah).

Di dalam pagelaran wayang, atau yang disebut pakeliran, pesan-pesan disampaikan secara jelas dan detail dalam aluring crios (alur cerita yang disampaikan). Maka, setiap dalang harus mempunyai keahlian dalam menyampaikan setiap lakon ceritanya. Misalnya, memasukkan piwulang Mbah Sunan Kalijogo di sela-sela dialog antartokoh, dan lain sebagainya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari wayang, kita dapat belajar, bahwa setiap manusia tak ubahnya wayang; dia harus menuruti apa kehendak sang dalang. Manusia pun sama, harus rida dengan ketetapan Allah. Sebagaimana yang tertera dalam kitab Futuhah al-Malikiyyahnya Ibnu Arabi: “Barang siapa yang ingin tahu kesejatian diri, maka hendaklah ia memandang bahwa setiap tindak-tanduknya adalah bentuk iradah (ketetapan) Allah.”

Dulu, antara keraton dan pesantren adalah dua hal yang saling berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa yang luhur dan bermoral. Banyak dari beberapa anak pangeran dan sultan yang dititipkan kepada para guru di surau-surau, supaya menjadi penguasa yang luhur dan berpengetahuan Islam yang luas (dalam istilah kasta dulu disebut: brahmana).

Tinggalkan Balasan