Keris Kiai Megalamat

Seto menempuh perjalanan selama tiga hari menuju Cirebon. Saat bertemu sungai, ia membasahi tubuhnya untuk meredam sengatan matahari. Ia bertemu sungai yang airnya begitu jernih, tidak begitu dalam, ditumbuhi oleh tanaman teratai dan enceng gondok. Setelah berada di bibir sungai, ia melepas pakaiannya— bertelanjang dada, menceburkan tubuhnya ke sungai seperti burung rajawali yang hendak menangkap ikan.

Ia ke Cirebon dalam rangka mencari guru kedigdayaan, kemudian ia akan kembali ke Jawa untuk ikut serta dalam misi penyerbuan mengusir Belanda di tanah Rembang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sungai itu diteduhi oleh pepohonan yang rindang. Seto sangat pandai berenang. Ia menyelam untuk melihat dasar sungai. Ia melihat batu-batu cadas, tumbuhan dasar sungai, ikan-ikan kecil yang bersembunyi di balik lumut-lumut hijau kebiru-biruan.

Ia kembali ke permukaan untuk bernapas. Ia tidak tahu jika ada buaya yang mengintainya. Buaya itu mendekat perlahan dan tanpa disadari olehnya. Sementara itu, ia sibuk menggosok-gosokkan tubuhnya dengan batu kecil, mulai dari lengan sampai ke leher.

Awalnya Seto tidak mengetahui jika buaya itu mendekat, tetapi matanya melihat sebuah gelombang kecil seperti ombak menuju ke arahnya. Semakin lama semakin mendekat. Ia mulai bersiaga. Buaya berukuran besar itu menyembul ke permukaan sungai, hendak menerkam dengan rahang yang lebar, tajam, dan kuat ke arah Seto.

Ia mencoba menghindar dari sergapannya dengan menahan mulut buaya itu, lalu melemparkannya beberapa meter di dekatnya dengan kedua lengannya yang berotot. Namun buaya itu pantang menyerah. Binatang itu kembali menyerang dengan serangan membabi-buta.

Kulit tangan Seto terkoyak, membuat air di sungai menjadi merah darah. Pertarungan Seto dengan buaya itu masih berlangsung sengit, membuat ombak-ombak kecil. Buaya itu tak mudah ditaklukkan saat berada di sungai. Meskipun tubuh Seto sangat kuat, namun tampaknya luka yang dideritanya membuat tenaganya menurun drastis.

Buaya itu menggelepar-gelepar. Tak lama kemudian ada seseorang yang tampak mengambang sedang berjalan di atas air hendak menolongnya. Selang beberapa waktu, sesosok itu mendekat, perlahan. Secara mengejutkan, tiba-tiba buaya itu menyingkir, seolah-olah ia takut dengan sesosok manusia renta yang diperkirakan masa hidupnya hampir seabad. Ia mengajak Seto untuk menepi, sementara ia masih mengambang di air, berjalan menuju tepi sungai.

Lelaki yang tampak renta itu berkumis putih dengan blangkon di kepalanya mengenakan jarit batik dan kaus panjang polos berwarna abu-abu. Ia memperkenalkan diri sebagai Mbah Jimar

“Kelihatannya kau berasal dari jauh? Siapa namamu?” tanyanya.

“Nama saya Seto, berasal dari Jawa Mbah,” jawab Seto.

“Tujuanmu apa datang ke sini?”

“Saya disuruh Kiai saya untuk memimpin penyerangan pengusiran kompeni di rembang, tetapi saya diperintahkan untuk berguru kepada Kiai Makdum,” jawabnya. Setelah menjelaskan niatnya, Seto diajak ke sebuah lembah berkapur. Mbah Jimar berjalan sangat cepat. Seto kewalahan mengejarnya, mesti ia berlari.

Ia tahu kalau sebenarnya Mbah Jimar adalah Kiai Makdum, orang yang ia cari. Ia mengetahui setelah ia bertanya pada santri-santrinya.

Menurut penuturan dari Kiainya, Mbah Jimar adalah salah satu orang yang paling ditakuti oleh kompeni. Ia kebal peluru, ia juga tidak bisa dibunuh dengan hanya menggunakan senjata tajam. Ia juga orang yang tidak tergoda dengan kekayaan dunia.

Kata Kiainya, pernah suatu ketika puluhan tentara kompeni berhadap-hadapan dengan Mbah Jimar. Tidak satu pun dari mereka yang bisa melumpuhkan Mbah Jimar. Ketika ia mengeluarkan aji lembu sekilan, tidak ada senjata apa pun yang dapat mengenainya, bahkan tentara kompeni kocar-kacir ketika kerisnya terbang sendiri, menikam beberapa orang-orang berkulit putih itu.

Mendengar hal itu, pimpinan kompeni yang menguasai daerah itu sangat murka. Ia menyewa pendekar-pendekar sakti dari berbagai pelosok pulau Jawa untuk menangkap Mbah Jimar, namun pendekar-pendekar bayaran itu tak mampu membekuk Mbah Jimar, setelah ia mengeluarkan pusaka pamungkasnya berupa keris yang bernama Keris Kiai Megalamat.

Cahaya kemerah-merahan itu terpancar seperti bara api saat Mbah Jimar mengeluarkan keris pusaka itu. Kemudian ia mengamuk seperti banteng terluka dan tidak ada yang bisa menghentikannya. Ketika keris itu meluncur ke arah musuh, keris itu melesat tanpa sia-sia.

Tinggalkan Balasan