Ngaji Wayang: Jejak Peninggalan Wali Songo

Namun, semenjak kolonial masuk ke Nusantara, mereka membuat strategi untuk memisahkan budaya dan keislaman, devide et impera, sehingga terjadi dualisme di kalangan santri: menganalogikan budaya dan Islam adalah dua hal yang bertentangan (santri vs abangan). Sejak itu, makna wayang sesungguhnya mulai hilang jejak dari peradaban Nusantara. Pagelaran wayang hanya dianggap sebagai ajang permainan belaka yang tidak ada unsur ajaran agamanya.

Selain masa kolonial, faktor melandainya budaya wayang di Nusantara adalah maraknya ideologi transnasional pasca-kemerdekaan Indonesia. Belakangan, banyak organisasi sosial kemasyarakat (ormas) yang menjunjung tinggi nilai-nilai individual mereka, dan mencaci habis ormas lain yang tidak sejalan. Mereka mendakwa bahwa pagelaran wayang, tahlilan, kenduren, tingkeban, adalah bidah yang sesat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hingga, banyak dari orang awam yang terobsesi oleh oleh dalil-dalil mereka, tanpa mengkaji lebih dalam. Banyak dari orang awam meninggalkan budaya-budaya yang telah dibangun dan diugemi oleh para wali dan leluhur, kemudian menggantinya dengan budaya-budaya yang menurut mereka benar. Mereka menjadikan Islam dikenal oleh masyarakat awam sebagai agama yang keras dan radikal.

Semenjak itu, banyak dari generasi milenial yang sudah tak mempunyai simpati dan empati dalam mendalami makna wayang. Mereka seolah telah lupa dengan budayanya. Jowo ra ngerti Jowone. Mereka telah dikuasai oleh budaya-budaya Barat yang merusak akal dan moralitas bangsa. Maka dari itu, marilah kembali mempribumisasikan ajaran-ajaran wayang. Selain budaya, wayang juga termasuk media seseorang untuk mencapai maqom sejatinya manusia (Insanul kamil). Setiap dalam cerita wayang disuguhkan dan sampaikan secara gamblang dan jelas.

Tinggalkan Balasan