Sebagai pembicara dalam “Ngopi Budaya” ini, KH Maimun Syamsuddin, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, menguraikan panjang lebar tentang budaya NU dengan guyonan khas kaum nahdliyin.
Menurutnya, organisasi terbesar di Indonesia ini memiliki keunikan-keunikan yang tidak dimiliki organisasi lainnya. Misalnya, warga NU selalu datang terlambat dalam suatu acara atau kegiatan. Ini bukanlah suatu hal yang perlu dirisaukan.

Sebab, keterlambatan tersebut mempunyai arti bahwa orang NU tidak mau diatur oleh waktu. “Warga Nahdlatul Ulama tidak mau diatur waktu, tetapi waktu yang diatur oleh warga NU,” kata Kiai Maimun yang memicu derai tawa hadirin.
Masih menurut Kiai Maimun Syamsuddin, salah satu (lagi) keunikan NU adalah menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Hal ini menjadi unik dan “antic” sebab NU merupakan organisasi besar yang berkecimpung dalam keagamaan yang teguh dan kokoh.
“NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal dengan alasan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari istikharah para ulama NU,” demikian Kiai Maimun menjelaskan tentang asas organisasi konvensional ini.
Lebih jauh, Kiai Maimun Syamsuddin memastikan bahwa ragam keunikan yang ada pada NU tidak sampai melanggar syariat Islam. Artinya, pada setiap persoalan yang ada tetap harus kita cari jalan keluarnya. Sebab, pada setiap kejelekan atau keburukan pasti ada kebaikan. Begitu juga sebaliknya, di setiap kebaikan mesti terdapat kejelekan yang patut kita pahami untuk dicarikan solusi.

Ya Allah, berilah saya kemampuan, aamiin…