“Ngopi Budaya” di Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura

Sebelum itu, A Tirmizi Mas’ud, sebagai Ketua Pagar Nusa sekaligus sebagai Ketua Organisasi Kompolan Tera’ Bulan”, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Pagar Nusa merupakan wadah untuk kreativitas dalam berbagai kegiatan. Di Pagar Nusa terdapat kegiatan olah raga, olah batin, dan olah piker sekaligus. Karena itu, kita dapat berperan aktif dalam berbagai kegiatan demi kepentingan umat.

Selnjutnya, K M Faizi, sebagai pembicara kedua juga menjelaskan budaya ke-NU-an dengan gaya yang tak kalah santuy. Penyair dan pimpinan Pesantren Annuqayah daerah Alfurqan ini menjelaskan bahwa warga NU memiliki “kemiringan” yang tidak semua orang memahaminya. “Kemiringan” yang dimaksud adalah keunikan-keunikan yang justru menjadi karakter dari organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu keunikan NU, menurutnya, adalah adanya organisasi besar yang anggotanya lebih dari 100 juta orang, tetapi pengurusnya tidak digaji. Sebuah organisasi keagamaan terbesar yang tidak memiliki posisi strategis di pemerintahan.

“NU adalah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesai, tetapi tidak memiliki posisi apa-apa di pemerintahan. Bahkan, tokoh NU yang mempunyai peran di pemerintah tidak pernah membawa nama ke-NU-an,” demikian jelas Kiai Faizi yang selalu memakai sarung dan songkok.

Dalam “Ngopi Budaya” ini juga dilakukan antara nara sumber dengan hadirin. KH Munif, pengasuh Pesantren Nasy’atul Muta’allimin, memberikan pendangannya terkait kondisi msyarakat saat ini. Ia menjelaskan tentang asas pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Bahwa, menurut Ki Hajar, ada tiga pokok asas pendidikan, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Jika ketiga elemen ini berdaya, ditambah lagi dengan lembaga pesantren, bukan tidak mungkin pendidikan Indonesai akan sangat maju dan berkualitas,” katanya.

One Reply to ““Ngopi Budaya” di Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura”

Tinggalkan Balasan