Para santri menyambut antusias kegiatan ini. Di samping mendapat kopi gratis, mereka juga memperoleh hiburan setelah dalam keseharian senantiasa bergelut dengan kegiatan pesantren. Lebih dari itu, antusiasme santri juga disebabkan karena kegiatan ini bagian dari rasa syukur di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi santri kegiatan ini sangat menghibur dan memberikan warna lain dari keseharian santri. Mereka berbondong-bondong (tentu dengan prokes yang ketat) mendatangi kedai kopi yang diinginkan. Dari kedai kopi yang satu ke kedai kopi lainnya, rasa seduh aroma kopi menguarkan harum yang akan menjadi pengalaman tersendiri. Nah, di sinilah nilai keragaman itu ada di dalam secangkir kopi. Satu nama tetapi dapat dirasakan dengan cecap yang tidak sama.

“Meskipun sekarang pandemi dan pendapatan kita dari berjualan turun drastis, bukan berarti kita harus hilang kegembiraan dan rasa syukur,” ujar Oki dari Kedai Perihal Kopi. “Justru, sekecil apa pun kita harus tetap berupaya bisa saling berbagi,” lanjutnya dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
Dijelaskan lebih lanjut, masih menurut Oki, bahwa dipilihnya pesantren (Annuqayah) sebagai tempat kegiatan ini adalah bahwa kemerdekaan negeri ini dicapai antara lain melalui perjuangan kaum santri.
“Hitung hitung juga mengenalkan dunia ke-barista-an kepada adik-adik santri,” imbuh Oki dengan nada semangat meski terdampak pandemi.
