Selanjutnya, tak jarang kita menemukan fakta menyedihkan di pesta walimah ketika makanan yang tidak habis tersisa dan ditinggalkan begitu saja. Pada akhirnya makanan sisa itu dibuang begitu saja. Padahal, banyak di luar sana orang-orang yang bersusah payah mencari sesuap nasi.
Menyikapi persoalan-persoalan tersebut, ada beberapa solusi yang bisa kita temukan dengan merujuk kepada tuntunan agama kita. Pertama, mengundang fakir miskin. Artinya, walimah bukan hanya dibatasi bagi orang-orang kaya dan punya kedudukan.

Rasulullah bersabda: “Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah di mana orang-orang kaya diundang makan, sedangkan orang-orang miskin tidak diundang.” ( HR. Muslim dan Baihaqi ).
Kedua, menghindari perbuatan mubazir. Jangan hanya karena ingin tampil glamour, membuat keluarga penyelenggara pesta walimah menghambur-hamburkan uang, makanan, dan waktu. Apalagi jika sampai berutang, sedangkan yang diajarkan oleh Rasulullah adalah bersederhanalah dalam walimah.
Ketiga, tujuan walimah adalah ibadah yang seharusnya dalam pelaksanaannya terlepas dari rasa gengsi, karena walimah merupakan salah satu sarana menginformasikan telah terjalinnya hubungan dua insan agar dapat menghindari prasangka-prasangkan buruk (fitnah) yang bisa timbul dalam masyarakat.
Indahnya Islam, semua hal sudah diberikan tuntunanya, tinggal kita sebagai hamba untuk mengikutinya demi kebaikan kita sebagai manusia yang lemah dan tidak memiliki daya dan upaya apa pun. Termasuk, dalam mengikuti tuntunan pesta walimah. Dengan mengikuti sunah nabi, maka akan tercipta sebuah keluarga sakinah, mawaddah, dan warrahmah yang dipenuhi kasih sayang dan kebahagiaan sampai ke surga kelak.
