Nilai Agama dalam Kehidupan Bernegara (2)

Machiavelli menolak pemahaman mengenai kekuasaan yang benar itu. Ia merendahkan martabat dimensi kehidupan politik pada persaingan antara pemimpin ‘mafia’ yang saling berebutan kekuasaan. Tentu saja, ini merupakan konsep kekuasan yang tidak terhormat, Di sini ia mereduksi paham kekuasan pada tingkat yang paling rendah. Apa yang hendak disimpulkan dari telaah komparatif sederhana mengenai konsep kekuasaan dan konsep moralitas tersebut adalah adanya keterpilahan dari kedua konsep tersebut secara teoretis.

Hal ini tidak berarti bahwa kepaduan atau kemenyatuan dari kedua konsep tersebut tidak bisa, melainkan secara terbuka harus kita unkapkan potensi untuk itu cukup besar. Jadi dapat dipahami secara teoretis-logis bahwa kekuasaan secara potensial dapat terpisah secara total dari moralitas, dan secara potensial dapat pula menyatu secara total dengan moralitas (etika). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kekuasaan dan moralitas adalah dua hal yang berbeda, dalam arti dapat dipilah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun seringkali dalam kenyataan empiris kedua ekstrem itu tidak dapat terlihat dengan jelas. Yang lebih nampak adalah tarik ulur kekuasaan dengan moralitas dalam mengaktualisasikan masing-masing kepentingan yang bersandar pada masing-masing keyakinan tertentu dari partisipan kehidupan politik yang ada.

Dari tesis tersebut, jelas bahwa wacana kekuasaan dan moralitas yang bersumber dari agama tetap menyisakan dua cara pandang dalam konteks kenegaraan dan ideologi sebagaimana perumusan awal sejarah perdebatan para Founding Fathers dalam mendirikan negara Indonesia. Kelompok Nasionalis-Sekuler dan Nasionalis-Islamis yang masing-masing dipelopori oleh Ir Soekarno dan Mohammad Natsir.

Indonesia secara tegas sebagaimana telah diurai di awal bukan negara sekuler, tetapi bukan pula negara agama yang hanya mengakomodasi agama tertentu, tetapi dengan pluralitas keagamaan, suku bangsa, ras dan lain-lainnya menjadikan konsep bhineka tunggal ika sebagai pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kendatipun, dominasi warna dari agama tertentu tidak dapat dihindari dari pengaruh kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari karena konsep demokrasi (suara mayoritas).

Tinggalkan Balasan