Nisfu Syakban dan Filosofinya

Hadits tersebut sebagai dalil syari bahwa Rasulullah memperbanyak puasa sunah di bulan Syakban demi menyambut bulan Ramadhan, bulan suci umat Islam. Puasa merupakan amalan ibadah yang secara langsung berhubungan dengan Allah.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyampaikan dua kegembiraan yang akan didapatkan umat muslim ketika berpuasa yakni, “Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam riwayat lain, Aisyah berkata, “Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Syakban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649).

Riyadhah Nisfu Syakban

Amalan-amalan pada malam Nisfu Syakban berdasarkan riyadhah para ulama, setelah salat Maghrib melakasanakan salat sunah dua rakaat. Rakaat yang pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun, sedangkan rakaat yang kedua setelah Al-Fatihah adalah membaca surat Al-Ikhlas (seperti yang dijelaskan dalam Pustaka Agung Surabaya, Majmu’ Syarif). Dalam keterangan lainnya, membaca surat Al-Ikhlas sebanyak enam kali dalam tiap-tiap rakaat setelah membaca Al-Fatihah.

Amalan lainnya yang termasuk riyadhah Nisfu Syakban adalah membaca surat Yaasin sebanyak tiga kali. Bacaan yang pertama diniatkan agar mendapat umur yang panjang, yaitu usia dengan nilai kualitas yang memberikan manfaat dalam kehidupan. Panjang umur dengan tetap selalu dapat mendekatkan diri kepada Allah. Umur yang berkah tentu dipandang sebagai umur yang panjang dalam nilai kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.

Niat bacaan surat Yaasin yang kedua adalah agar diluaskan rezeki. Dalam hal ini tentu rezeki yang halal, rezeki yang memberikan kemanfaatan baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Rezeki diperlukan dalam kehidupan agar kita mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan merupakan nilai utama dalam hidup. Harta bukan satu-satunya sarana untuk mendapat kebahagiaan hidup. Bahkan, jika kita tidak mampu memanfaatkan harta, maka kita akan menjadi budak harta, dan harta itu menjadi penyebab dalam kepedihan hidup. Dalam riyadhah ini harapan kita agar harta yang kita dapatkan menjadi penyebab kebaikan dalam kehidupan.

Selanjutnya, pada niat yang ketiga dalam pembacaan surat Yaasin adalah berharap meninggal dunia dalam keadan khusnul khotimah (meninggal dunia dalam keadaan baik, beriman kepada Allah). Hal ini sangat penting karena keimanan merupakan hal pokok menuju kehidupan akhirat. Ketika seseorang meninggal dalam keadaan tidak membawa iman, maka ia akan celaka dan mendapat siksa selama-lamanya. Jadi khusnul khatimah merupakan cita-cita luhur setiap muslim agar kehidupan di akhirat, yang kekal, mendapatkan kesempurnaan dan kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan