NU dan Gerakan Post-Tradisionalisme

Dengan sistem seperti ini, masyarakat diajarkan untuk memahami inti dari syariat. Misalnya yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti spa yang menjadi tujuan dari syariat itu sendiri, bagaimana syariat itu hidup dalam diri manusia, dan bagaimana adaptasi syariat terhadap perkembangan zaman. Hal inilah yang nantinya menjadikan Islam sebagai agama yang dinamis.

Aplikasi Post-Tradisionalisme

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Post-tradisionalisme dalam penyebaran agama Islam dapat dilihat dari gerakan tokoh ternama, yaitu KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Gus Dur terkenal dengan pemikiran yang adaptif, sehingga gagasan yang dikeluarkan mudah diterima oleh masyarakat. Bahkan dalam beberapa kasus, pemikirannya disegani oleh umat non-Muslim. Sebagai contoh, pembolehan perayaan Imlek secara besar-besaran menjadi bukti adaptasi terhadap ajaran Islam yang dilakukan.

Bahkan dalam perkembangannya, beliau dikenal sebagai Bapak pluralis karena seringnya menghargai tradisi-tradisi yang telah mengakar di masyarakat, termasuk tradisi dari non-muslim itu sendiri. Pokok gagasan yang dikeluarkan oleh beliau, menjadikan Indonesia semakin kokoh dari sisi kerukunannya. Meningkatkan nasionalisme seluruh rakyat karena merasa semua hak-hak rakyat telah terpenuhi.

Maka ajaran post-tradisionalisme Islam seperti itu sangatlah penting dilakukan. Hal ini bukan hanya disasarkan untuk perkembangan Islam itu sendiri, melainkan penguatan nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan bangsa. Oleh karena itu pengembangan post-tradisionalisme sebagai suatu ajaran, wajib dilakukan, dan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia memiliki kekuatan yang besar untuk mendongkrak konsep tersebut.

One Reply to “NU dan Gerakan Post-Tradisionalisme”

Tinggalkan Balasan