Kultur Nahdlatul Ulama
Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia paling gencar memakai post-tradisionalisme sebagai metode pengajarannya. Kontekstualisasi Nahdlatul Ulama yang menempatkan tradisi sebagai dasar dakwah, menjadikan kegembiraan tersendiri yang memuat kegembiraan saat memeluk agama Islam. Pada dasarnya, pengajaran post-tradisionalisme Nahdlatul Ulama mengacu pada pola dakwah yang telah dilakukan oleh Walisongo.

Cerita paling tersohor, kisah Sunan Kalijaga yang menebar kegembiraan serta mengajarkan syariat Islam melalui cerita wayang kulit. Ada Sunan Bonang yang menyebarkan agama Islam dengan memakai gamelan. Dan beberapa kisah sunan yang lain, yang menggunakan metode yang sama untuk menarik masyarakat dalam keindahan agama Islam.
Mereka mencirikan Islam sebagai agama yang indah. Sebagai agama yang membawa kegembiraan. Agama yang tidak kaku, dan mudah dilaksanakan. Sebab itulah, seseorang yang memeluk agama Islam, berarti dirinya telah merangkul kebahagiaan itu dalam dirinya. Maka tenanglah dia dengan membawa kebahagiaan itu.
Maka peran Nahdlatul Ulama juga demikian. Nahdlatul Ulama tidak serta merta menyingkirkan kesenangan-kesenangan yang telah mengakar dalam tradisi masyarakat. Misalnya budaya kumpul-kumpul pada prosesi kematian yang diiringi dengan budaya mabuk-mabukan dan judi, diganti dengan pembacaan doa. Kemudian sesaji yang dipersembahkan untuk roh, diganti dengan sistem syukuran, yang makanannya dibagi kepada tetangga sekitar. Adaptasi seperti inilah yang lebih disenangi karena membawa kemanfaatan besar bagi semua orang.

Post tradisionalisme ini sebenarnya yang menjadi senjata NU untuk terus meningkatkan eksistensinya di tengah kehidupan masyarakat. Mantab tulisannya guz👍🏻🙏🏻