Jika kita melihat ke belakang, pertentangan antara NU dengan Wahabi telah seumur Kerajaan Arab Saudi itu sendiri, yang berdiri dengan sokongan kaum Wahabi. Bahkan, NU menjadi organisasi berbasis Islam di dunia yang pertama dan secara resmi melakukan “perlawanan” terhadap gerakan Wahabi. Memang, salah satu tujuan utama dibentuknya NU adalah untuk melawan dan mengadang gerakan Wahabi itu.
Sejarah mencatat, kisah itu bermula dari persekutuan antara ulama garis keras Muhammad bin Abdul Wahab dengan seorang pangeran yang sedang berjuang membangun kekuasaan bernama Muhammad ibn Saud. Sebelum bertemu dengan ibn Saud, Abdul Wahab ditolak penduduk Basrah karena ajarannya bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Ia kemudian menetap di Dir’iyah, dan di sanalah Abdul Wahab bertemu dengan ibn Saud.

Kedua orang ini akhirnya bersekutu. Abdul Wahab mendukung ibn Saud untuk membangun kekuasaan asal kerajaannya menganut ajaran Abdul Wahab. Dan, ibn Saud mengangguk tanda setuju. Keluarga Saud dan pasukan Wahab bahu-membahu melakukan penyerangan dan peperangan ke berbagai kota, mulai dari wilayah Najed, Oman, hingga ke Irak dan Suriah. Pada tahun 1802, pasukan Saudi dan laskar Abdul Wahab berhasil merebut Hijaz, daerah yang meliputi Jeddah, Mekkah, Madinah, dan sekitarnya. Berbagai peperangan ini memiliki dua misi sekaligus: menyebarkan ajaran Abdul Wahab —yang kelak disebut Wahabi— dan memperluas jaringan kekuasaan ibn Saud.
Persekutuan ibn Saud-Abdul Wahab yang mengobarkan peperangan ini membuat Kesultanan Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul murka. Kesultanan Turki akhirnya mengirimkan pasukan untuk menumpas gerakan duet ibn Saud-Abdul Wahab. Pada 1818 laskar ibn Saud-Abdul Wahab menyerah, dan Kesultanan Turki berhasil memulihkan keadaan, ibn Saud pun dieksekusi. Namun demikian, laskar Wahabi dan klan ibn Saud masih tetap membangun persekutuan untuk kembali merebut kekuasaan.
Gelombang pasang persekutuan klan Saud-penganut Wahabi kembali menguat ketika Kesultanan Turki berada di titik nadir. Setelah memperoleh sokongan persenjataan modern dari Inggris, klan Saud yang dipimpin Abdul Aziz Ibnu Saud, bersama laskar Wahabi, pada 1925 berhasil menaklukkan Hijaz yang sebelumnya di bawah kekuasaan Kesultanan Turki. Pada 1932, Hijaz menjadi kerajaan yang berdiri sendiri dengan nama baru, al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Sa’udiyyah atau Kerajaan Arab Saudi. Nama Saudi dinisbatkan pada Al Saud, leluhur Muhammad ibn Saud dan Abdul Aziz Ibnu Saud.
Sikap Ulama Nusantara
Arab Saudi, sebagai kerajaan yang baru, harus membayar “utang dan janji” pada penyokongnya, laskar Wahabi. Maka, ketika keturunan Saud bertakhta di tampuk kekuasaan yang baru itu, ajaran-ajaran keagamaan Abdul Wahab dijalankan secara formal. Maka, di wilayah Arab Saudi yang sebelumnya dikenal sebagai Hijaz itu, paham dan praktik-praktik keagamaan mulai berubah total.
