Nyai Rahmatun (2): Belajar Politik Jadi Jurkam

Yang menjadi perhatian utamanya tetaplah bagaimana mengayomi masyarakat, khususnya kaum perempuan di bidang ilmu pengetahuan, yang dalam hal ini ilmu keagamaan. Sehingga pada akhir tahun 1990-an, atas inisiatif sendiri, Nyai Rahmatun tidak aktif lagi dan berhenti total di partai politik mana pun.

Setelah turun dari panggung politik, selanjutnya Nyai Rahmatun dapat mengabdikan seluruh waktunya untuk kepentingan dakwah. Dengan selalu didampingi suaminya, kini Nyai Rahmatun dapat memenuhi semua agenda dakwahnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bahkan, di antara agenda dakwahnya yang menarik adalah blusukan ke ke desa-desa terpencil, seperti Desa Kotabang Ganding, Bataal, Rombiya, Karduluk, Banaresep, dan lain sebagainya. Di desa-desa terpencil itu, Nyai Rahmatun selalu mengajak dan mendorong kaum perempuan untuk mempelajari ilmu pengetahuan sebanyak mungkin tanpa mengenal batasan usia, status, dan profesi, dengan “pendekatan kekeluargaan”. Sehingga masyarakat merasa nyaman karena tidak adanya kesenjangan antara dirinya sebagai pendakwah dengan mereka sebagai masyarakat awam.

Selain itu, Nyai Rahmatun juga pernah mendirikan perkumpulan khusus remaja putri dan satu kelompok lagi khusus para perempuan lansia. Di perkumpulan remaja putrid, Nyai Rahmatun menginisiasi program pembinaan bakat seperti murotal Al-Quran bit taghanni (dengan lagu dan irama tertentu), baca puisi, mendendangkan selawat Nabi, pidato dalam bahas Madura, dan lain-lain yang diadakan di rumah masing-masing anggota perkumpulan secara bergilir. Sedangkan, untuk para lansia, Nyai Rahmatun mengajarkan baca tulis Arab dan Latin, seperti huruf abjad dan huruf hijaiyah, yang juga diadakan di rumah masing-masing anggota secara bergiliran.

Terobosan lain yang digerakkan Nyai Rahmatun adalah kampanye menolak pernikahan anak-anak di usia dini. Gerakan ini wajar, mengingat saat itu mayoritas perempuan pedesaan menikah pada usia yang sangat muda, yaitu kelas 4 atau kelas 5 SD atau umur 10 sampai 12 tahunan. Dan, jarang sekali ada perempuan yang menamatkan Sekolah Dasar.

2 Replies to “Nyai Rahmatun (2): Belajar Politik Jadi Jurkam”

Tinggalkan Balasan