Nyai Rahmatun (2): Belajar Politik Jadi Jurkam

Saat itu, memang hanya anak laki-laki yang dituntut untuk menamatkan Sekolah Dasar atau melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Hanya laki-laki juga yang diperbolehkan menikah dan bekerja setelah lulusan sekolah. Sedangkan, bagi anak perempuan, ketika sudah menikah, mereka dilarang untuk bersekolah. Juga tidak diperbolehkan aktif di ranah publik karena dianggap sudah mempunyai tanggung jawab moril di ranah domestik.

Padahal, menurut Ny Rahmatun, seperti yang diceritakan oleh Nazirah yang merupakan salah seorang anggota majelis taklimnya (yang sekarang masih hidup), seharusnya laki-laki dan perempuan diperlakukan sama dalam hal pendidikan. Status suami-istri tidak boleh disamakan dengan dengan atasan dan bawahan, tetapi sebagai mitra yang saling menghormati, menyayangi, melengkapi, dan menghargai satu sama lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka salah satu cara untuk memuluskan terobosan terbarunya tersebut, santri dan siswa yang mengenyam pendidikan di lembaganya tersebut disarankan agar menyelesaikan pendidikan formalnya, minimal di tingkat Madrasah Tsanawiyah  (MTs) atau Madrasah Aliyah (MA), sambil diberi pemahaman kepada wali santri dan murid akan pentingnya ilmu dan pendidikan bagi kaum perempuan.

Untuk menyasarkan masyarakat, terutama kaum perempuan, akan pentingnya ilmu, Nyai Rahmatun selalu menyitir potongan ayat Al-Quran  surat Al-Mujaadalah ayat 11, yang artinya “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Selain itu, Nyai Rahmatunbeliau juga mempopulerkan slogan “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, dan belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air.”

2 Replies to “Nyai Rahmatun (2): Belajar Politik Jadi Jurkam”

Tinggalkan Balasan