Dari sini, secara tidak langsung Nyai Solichah memberikan contoh kepada kita, dan utamanya pada putra-putrinya, bahwa menjadi sosok ibu yang sekaligus merangkap menjadi ayah bisa dilakukan oleh seorang wanita. Juga, bahwa menjadi pemimpin bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau melakukannya, tanpa harus terpaku pada marwah sebagai wanita karena menghidupi keluarga adalah wajib.
Dari cerita putra-putrinya, terlihat bagaimana sosok Nyai Solichah menanamkan pelajaran yang pada zamannya jarang sekali diajarkan dalam pendidikan formal. Yaitu, bahwa karakter adalah suatu hal yang sangat penting sekali sebagai fondasi awal pada anak untuk menunjang masa depannya kelak. Rasanya perlu kita sepakati bahwa maqolah al- Ummu Madrasah al- Ula itu adalah benar bukan hanya sebuah maqolah ataupun quotes motivasi belaka.

KH Solahuddin Wahid, salah seorang putranya, memaparkan bagaimana sosok sang ibunda tercinta dalam menanamkan karakter kepada putra-putrinya dengan sangat hati-hati dan pilah pilih. Hal ini terbaca dari tulisan beliau dalam buku Ibuku Inspirasiku. Gus Solah menjabarkan poin penting yang ditanamkan oleh Nyai Solichah sebagai ibundanya, seperti nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan kesadaran.
Gus Solah juga menjabarkan nilai-nilai yang menjadi substansi dalam pendidikan karakter oleh ibundanya. Dalam hal kejujuran, contohnya, bagaimana sosok Nyai Solichah menanamkan pentingnya kejujuran karena kejujuran adalah hal yang fundamental untuk mendapat kepercayaan dari orang lain.
Nyai Solichah juga menanamkan nilai-nilai keberanian, keberanian dalam segala hal, termasuk keberanian untuk memikul tanggung jawab. Nilai tanggung jawab inilah yang sangat ditekankan oleh beliau kepada putra-putrinya. Berani bertanggung jawab, berani mengakui atas tindakan yang dilakukan, dan berani untuk tampil di muka umum.
