Toko Romlah

“Harga yang kami tawarkan sudah tertinggi di daerah ini Pak. Coba tanyakan kepada orang-orang yang Bapak kenal atau mungkin pejabat di kelurahan di sini. Harga yang kami tawarkan empat kali lipat dari harga normal,” kata Aldi, staf humas sebuah perusahaan swalayan waralaba.

“Aku tak berniat menjualnya. Walaupun kamu tawar tokoku seharga satu triliun,” timpal Yudis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Atau kami tawarkan Bapak sebagai investor swalayan yang hendak kami dirikan. Setiap bulannya Bapak akan mendapatkan tiga persen dari keuntungan perusahaan kami. Kakek akan mendapatkan uang semiliar, dan penghasilan sampai lima juta per bulan. Pengahasilan ini bisa naik jika omzet swalayan kami naik, dan bisa diwariskan selama swalayan yang kami kelola terus beroperasi.”

Sekali lagi kakek itu menolak dengan sangat tegas. “Apa pun yang perusahaan Anda tawarkan untuk toko saya, tidak akan kami terima.”

“Baik Kek, ini kartu nama saya. Jika Kakek ingin mengajukan persyaratan lain kepada perusahaan kami, silakan datang ke kantor kami atau bisa menelepon kami.”

Aldi berpamitan. Seketika anak-anak Yudis menuju ruang tamu.

“Kenapa Ayah masih mempertahankan toko ini? Tawaran mereka sudah terlalu tinggi, Yah.”

“Benar kata Mas Anto. Kemarin toko milik Pak Sul yang lebih besar dari kita hanya laku tiga ratus juta rupiah. Ayah juga mendapatkan bagi hasil lima juta per bulan. Itu sudah sangat tinggi, Yah,” kata Yui, anak kedua Yudis.

Tanpa perkataan, Yudis meninggalkan mereka. Ia menuju ke kamarnya. Ia pun menangis sambil mengeluarkan sebuah baju batik tua kemudian memeluknya erat.

***

Yudis teringat kenangan empat puluh tahun yang lalu ketika Mulyono, ayahnya, berpesan kepadanya agar menjaga Amalia setiap kali menyeberangi Sungai Brantas. Jangan sampai Lia bermain ke pinggir perahu tambang.

“Ayo kita naik perahu. Ingat Lia, jangan pernah melepaskan gandengan tanganku sampai kita melewati tanggul seberang sana!” perintah Yudis kepada adiknya. Lia mengangguk.

“Hari ini kita akan ke rumah Lik Lah. Nanti kita akan mendapatkan uang saku dan jajan yang banyak jika kamu mematuhiku. Jika kamu tidak patuh, Ayah pasti marah dan tidak mengajak kita ke sana.”

Yudis paham nambang1, menyeberangi sungai dengan perahu yang diikat dengan tali besi yang diikatkan dari tanggul sungai itu memang sangat berbahaya.

Sebenarnya banyak korban harta atau nyawa terjadi ketika para penduduk Keludan dan Papar melayang gara-gara mereka menyeberangi Brantas. Mereka tidak berdaya karena memang itulah cara satu-satunya masyarakat kedua desa itu bisa pergi pada tahun 1970-an.

“Alhamdulillah kita sudah sampai, Nak. Ayo naik ke boncengan,” perintah Sarni kepada kedua anaknya.

Yudis dibonceng oleh Mul, sedangkan Sari dibonceng oleh Sarni. Usai tiga puluh menit mereka mengayuh sepeda, meraka sampai ke rumah Lik Lah. Ia menyambut gembira ketika saudaranya dan para keponakannya datang ke rumahnya.

“Bu Lik…,” Lia menyapa Romlah.

“Aduh…, keponakanku yang cantik. Ayo salim dulu…. aku sudah menyiapkan permen.”

***

“Kakek melamun apa?” tanya Sulis, istri Yudis kepada suaminya.

“Aku hanya mengingat masa laluku bersama Lia. Kami selalu bergembira datang ke toko ini ketika masih menjadi milik Lik Lah. Setiap datang ke sini kami selalu diberi uang dan makan jajan sepuasnya.”

“Aku memahami maksudmu, Kek. Ketika kau mau melamarku waktu itu dengan uang tabunganmu, Lik Lah hendak menjual toko ini karena ada pengusaha yang menawarnya dengan harga tinggi. Kakeh malah memilih memakai uang lamaran untuk membeli toko. Akhirnya lamaran kita tertunda tiga tahun.”

“Toko ini bagiku adalah hal kedua yang paling berarti dalam kehidupanku. Banyak kenangan yang tak terlupa bersama keluargaku.”

Tinggalkan Balasan