Gus Solah juga mencatat bagaimana sang ibunda menanamkan nilai-nilai kesadaran. Ini menyangkut kesadaran terhadap kesamaan dan kesetaraan antarmanusia. Melalui penanaman nilai kesadaran, Nyai Solichah menekankan bahwa tidak boleh ada pembatasan diri terhadap segala bentuk perbedaan, antara yang kaya dengan yang miskin, yang pintar dengan yang bodoh, dan lain sebagainya. Karena, pada hakikatnya semua sama-sama manusia, dan selayaknya sebagai makhluk sosial harus saling menghargai dan saling membantu jika dirasa perlu.
Nilai-nilai inilah yang kemudian mengantarkan para putra-putrinya, termasuk KH Abdurrahman Wahid, menjadi orang besar dan berpengaruh dalam bidangnya masing-masing. Kepemimpinan, ketangguhan dalam menjalani hidup, dan kesuksesannya dalam membesarkan putra-putrinya ini patut untuk dijadikan teladan dan inspirasi utamanya bagi kaum perempuan.

Selain menjadi sosok ibu bagi putra-putrinya, Nyai Solichah juga merupakan ibu bagi banyak orang, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU). Seperti kita ketahui, Nyai Solichah sangat aktif dalam mengembangkan organisasi masyarakat ini terutama dalam bingkai Muslimat NU. Dalam lingkungan Muslimat NU, Nyai Solichah juga selalu menanamkan pada semua orang tentang pentingnya jiwa kepemimpinan dimiliki oleh setiap orang, terutama para perempuan yang masih minder dan merasa tidak pantas untuk menjadi pemimpin.
Dari sosok Nyai Solichah inilah bagaimana kita sebagai seorang yang terpelajar harus bisa menilai dan mengambil hikmah dari apa yang dilakukan oleh Nyai Solichah Wahid. Terutama juga bagi para pembaca santriwati, mahasiswi, dan seluruh wanita di seantero negeri bahwa perempuan juga bisa dan harus mampu menjadi sosok yang mampu menjadi pemimpin bukan hanya seperti stigma selama ini yang berpendapat ibu rumah tangga ataupun pelayan suami saja.
