Beberapa impian Nyai Siti untuk pondok putri yang sampai saat ini belum terlaksana antara lain adalah membangun mushola khusus santri putri (karena selama ini santri putri masih menggunakan sekolahan RA sebagai mushola sementara untuk kegiatan-kegiatannya) dan membekali santri-santri putri dengan berbagai keterampilan, misalnya menjahit, kursus bahasa, atau memasak (yang sampai saat ini masih dipikirkan dan diupayakan oleh Nyai Siti bagaimana menyediakan peralatan menjahit, laboratorium bahasa, dan peralatan memasak serta tenaga-tenaga yang bisa mengajar keterampilan-keterampilan tersebut).
Nyai Siti juga bermimpi suatu saat nanti Pondok Pesantren Darussalam punya perguruan tinggi sehingga santri-santri yang mondok di sana bisa sekaligus melanjutkan sampai ke tingkat perguruan tinggi juga. Terlebih bagi santri putri yang kebanyakan tidak terlalu diperhatikan pendidikan formalnya oleh keluarga. Padahal, dengan pendidikan yang lebih tinggi, santri-santri tersebut bisa memiliki lebih banyak pilihan di masa yang akan datang, misalnya jika ingin bekerja sebagai guru atau pegawai.

Selain memperjuangkan pendidikan untuk anak perempuan, terutama sekali anak-anak perempuan di sekitar daerah Kecamatan Ganding dan Kecamatan Lenteng, Nyai Siti juga merintis dan menghidupkan organisasi muslimat NU di Desa Bilapora dan menjadi pelopor aktifnya kegiatan Muslimat NU di dua kecamatan tersebut. Nyai Siti mulai menjadi ketua Muslimat NU sejak usianya 14 tahun dan terus berupaya keras membesarkan organisasi tersebut hingga saat ini. Beliau berupaya mendidik ibu-ibu Muslimat NU untuk berani menyuarakan pendapatnya, untuk memimpin, dan untuk mandiri.
Nyai Siti juga sangat mendorong peran dan partisipasi aktif perempuan dalam kegiatan sosial, politik, dan kemasyarakatan. Salah satunya dengan mendorong dan mengupayakan terpilihnya kepala desa perempuan di Bilapora. Saat itu hampir sebagian besar warga menolak majunya Eni Setiasih, seorang aktivis Muslimat NU Desa Bilapora bimbingan Nyai Siti menjadi calon kepala desa perempuan karena adanya keyakinan bahwa pemimpin perempuan tidaklah sesuai dengan syariat agama. Ada begitu banyak penentangan. Apalagi sepanjang sejarah, tak pernah ada kepala desa perempuan sebelumnya di sana.
Warga masyarakat pun dibuat bingung dengan kondisi tersebut. Namun, ketika mereka sowan dan bertanya pada Nyai Siti soal kepemimpinan perempuan, Nyai Siti justru memberikan pandangan bahwa yang terpenting adalah kemampuan memimpin dan membawa masyarakat ke dalam kondisi yang lebih baik, bukan apa jenis kelaminnya. Penjelasan Nyai Siti akhirnya cukup meredakan kebingungan yang terjadi dalam masyarakat.
Ketika akhirnya Eni Setiasih terpilih menjadi kepala desa, ketegangan bukannya mereda. Ada banyak pihak yang tidak suka dengan terpilihnya Eni Setiasih yang kemudian memprovokasi warga dan membawa masalah itu ke dalam perbincangan agama; bahwa pemimpin perempuan tidaklah sesuai dengan syariat agama. Namun, lagi-lagi hal tersebut berhasil diredakan berkat ketegasan Nyai Siti dalam membela dan memperjuangkan posisi kepemimpinan perempuan.
Posisi perempuan, yang di beberapa daerah di Madura masih dinomorduakan, tidak berlaku dalam kehidupan Nyai Siti. Meskipun beliau tidak mengenyam pendidikan formal hingga perguruan tinggi, dan kebanyakan hanya bergelut dengan kitab-kitab klasik, bahkan beliau kurang lancar berbahasa Indonesia, namun cara pandangnya bisa dibilang cukup progresif. Beliau menekankan bahwa Allah menciptakan manusia setara, baik laki-laki maupun perempuan, dan semuanya berhak atas hak-hak dasar yang sama tanpa adanya pengecualian. Itulah sebabnya, Nyai Siti sangat mendorong terpenuhinya hak pendidikan bagi anak-anak perempuan, sebagaimana pada anak laki-laki. Pun jika pada akhirnya anak-anak perempuan itu memilih menjadi ibu rumah tangga saja, setidaknya mereka menikah di usia yang cukup dan sudah menamatkan sekolah menengah dan menyelesaikan mondoknya.
Meskipun alasan-alasan yang diungkapkan Nyai Siti perihal penolakannya pada pernikahan anak bisa dibilang termasuk sangat sederhana (beliau tidak mengenal persoalan-persoalan seperti kesehatan seksual dan reproduksi, dan dampak kesehatan yang bisa menimpa anak-anak perempuan yang menikah di usia belia) namun penolakan beliau terhadap pernikahan anak dalam kaitannya dengan pendidikan perempuan cukup membesarkan hati. Adanya kesadaran bahwa pendidikan bagi perempuan itu sama pentingnya dengan pendidikan bagi laki-laki telah meletupkan dan menciptakan harapan-harapan yang lebih besar, terutama sekali bagi masyarakat sekitar pondok pesantren Darussalam, Bilapora.
Tak bisa dimungkiri, berdirinya pondok putri di desa Bilapora dan banyaknya anak-anak perempuan yang akhirnya mondok dan sekolah sampai ke jenjang SMK di daerah tersebut sedikit banyak adalah buah dari perjuangan Nyai Siti.
Nyai Siti sendiri bahkan bisa dibilang menjadi pelopor ulama perempuan pemimpin di Desa Bilapora. Sepeninggal wafatnya Kiai Ahmad Jazuli di tahun 2004, kepengasuhan Pesantren Darussalam dipegang oleh Nyai Siti sampai sekarang. Beliau-lah yang memimpin kepengurusan baik di pondok putra maupun pondok putri. Dan kemungkinan beliau adalah satu-satunya pengasuh perempuan di pondok pesantren di daerah tersebut. Dalam berbagai kesempatan, Nyai Siti juga kerap memimpin tahlil atau istighosah baik di Madura, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Ponorogo, dengan jamaah tak hanya perempuan tetapi juga lelaki.
Meskipun Nyai Siti sudah semakin sepuh, namun aktivitas beliau sama sekali tidak berkurang. Selain terus mengurus santri pondok, beliau juga masih aktif mengurus organisasi Muslimat NU, dan sederet aktivitas lainnya. Beliau juga mendirikan organisasi ikatan alumni pondok pesantren Darussalam yang menjadi wadah seluruh alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan tujuan supaya antar alumni saling bersilaturahmi.
Bagi Nyai Siti, masyarakat, alumni, dan santri sudah seperti keluarganya sendiri. Semua dianggap sebagai anak yang perlu diayomi dan disayangi. Dan begitupun masyarakat sekitar memperlakukan Nyai Siti, seperti orang tua mereka sendiri. Mereka datang berbondong-bondong pada beliau untuk berbagi keluh kesah, masalah, dan apa saja. Mungkin inilah yang juga membuat Nyai Siti menjadi sangat memikirkan masyarakat, terutama sekali yang berkenaan dalam bidang pendidikan.
Role Model Ulama Perempuan
Keistiqomahan beliau dalam mendidik santri dan masyarakat menjadi inspirasi bagi banyak orang, termasuk beberapa alumni santri baik laki-laki maupun perempuan yang menjadikan Nyai Siti sebagai role model dalam kehidupan mereka. Banyak alumni-alumni santri yang akhirnya mendirikan pesantren dan mengasuh pondok pesantren tersebut mengikuti cara-cara yang secara tidak langsung dicontohkan oleh Nyai Siti. Pondok pesantren itu tersebar di sekitar Madura sampai Jawa Timur, terutama Jember dan Banyuwangi. Harapannya, perjuangan Nyai Siti dalam memperjuangkan pendidikan untuk semua orang, tak hanya bagi laki-laki namun juga bagi perempuan bisa ditiru oleh para keluarga, santri, alumni, dan masyarakat sekitar. Dan semoga Nyai Siti diberi kesehatan serta umur panjang yang penuh keberkahan, sehingga beliau bisa mewujudkan impian-impiannya dalam dunia pendidikan santri.
