Nyai Seppo

Nyi Seppo, Sang Pendidik Perempuan Madura (Mengenal Nyai Siti Maryam)

Di Desa Bilapora Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep, Nyai Siti Maryam menjadi salah satu pemuka agama yang selalu berusaha agar anak-anak perempuan memperoleh pendidikan sekolah formal dan keagamaan yang cukup sebelum akhirnya menikah dan mengasuh anak. Nyai Siti jugalah perempuan pertama yang berinisiatif membangun pondok puteri di daerah tersebut 41 tahun yang lalu. Mula-mula, pada masa perintisannya, santri putri yang mondok di sana hanya sekitar sepuluh orang, tetapi saat ini justru jumlahnya menyalip jumlah santri pondok putera yang lebih dulu berdiri sejak periode kakek mertuanya.

Nyai Siti Maryam dilahirkan di Desa Gadu Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, pada 15 Muharram 58 tahun yang lalu dari pasangan Kiai Jamaluddin dan Nyai Masrurah. Silsilah dari jalur ayah adalah sebagai berikut: Nyai Siti Maryam binti Jamaluddin bin Khazin/Abdul Mu’in bin Murtadho bin Mufid bin Sihhah bin Dzu Limah bin Abdul Karim bin Syish bin Ali Zainal Abidin (Sunan Cendana) bin Khatib bin Musa bin Qasim (Sunan Drajat) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel). Sementara dari jalur ibu, silsilahnya adalah sebagai berikut: Nyai Siti Maryam binti Masrurah binti Tsuwaibah binti Khadijah binti Kiai Mohammad Syarqowi (Pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, atau yang lebih dikenal dengan nama Pesantren Guluk-Guluk saja).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat kelahirannya, ibunda Nyai Siti, Nyai Masrurah mengatakan bahwa kelak Nyai Siti akan kuat menjadi seorang pemimpin karena menurut kepercayaan orang Madura, anak yang dilahirkan pada bulan purnama di bulan Muharram akan dikuatkan menjadi seorang pemimpin. Dan, sepertinya ucapan Nyai Masrurah memang menjadi kenyataan.

Nyai Siti sejak kecil dididik mengaji oleh kedua orang tuanya yang juga pengasuh pondok pesantren Jamalullail sebelum akhirnya mondok di Pesantren Al-Anwar Gadu yang diasuh oleh paman dan bibi Nyai Siti, yaitu Kiai Anwar dan Nyai Arifah (Nyai Arifah adalah adik sepupu dari Kiai As’ad Syamsul Arifin Sukorejo, Situbondo, yang menjadi salah satu pendiri Nahdlatul Ulama) sejak usia 7 tahun sampai akhirnya Nyai Siti menikah.

Nyai Siti Maryam menikah dengan Kiai Ahmad Jazuli bin Thohiruddin pada usia 13 tahun, dan sejak saat itu ikut menetap di Desa Bilapora Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep serta membantu Kiai Jazuli mengasuh Pondok Pesantren Darussalam. Pondok Pesantren Darussalam sendiri berdiri sejak tahun 1800-an, didirikan oleh Kiai Harru, kakek Kiai Jazuli. Sejak tahun 1961, Kiai Ahmad Jazuli-lah yang mengasuh pondok pesantren tersebut.

Pada awalnya, Pondok Pesantren Darussalam hanya menerima santri putra saja, baru pada tahun 1975, berkat inisiatif Nyai Siti Maryam, pesantren putri dibuka. Saat itu Mbah Nyai baru berusia 17 tahun. Dan pondok pesantren puteri tersebut menjadi satu-satunya pondok puteri di Bilapora.

Begitu Pesantren Darussalam membuka pondok puteri, lama-kelamaan ada banyak sekali santri putri yang akhirnya mondok di situ. Kebanyakan adalah anak-anak alumni Pesantren Darussalam periode sebelumnya yang berasal dari daerah Jawa Timur dan Madura serta masyarakat sekitar. Bahkan, ada juga santri putri dari Jawa Barat dan Kalimantan yang mondok di sana. Kurikulum pengajaran di pondok puteri fokus dalam pendidikan kitab kuning dan juga menekankan pada pendidikan adab serta akhlaqul karimah.

Meskipun dulunya Nyai Siti menikah di usia 13 tahun, namun beliau sama sekali tidak menginginkan santri-santri puteri yang mondok di pondok pesantren Darussalam menikah di usia terlampau belia. Apalagi sejak pondok pesantren Darussalam memiliki sekolah formal pasca tahun 90-an.

Mulai tahun 1993 sampai sekarang, Pesantren Darussalam telah membangun sekolah formal mulai dari PAUD, RA, MI, SMPi, dan SMK sehingga santri-santri yang mondok di sana  umumnya juga bersekolah di sekolahan pondok. Sebelumnya, anak-anak yang mondok sekaligus sekolah formal lebih banyak didominasi oleh santri laki-laki, namun setelah dibangunnya sekolah formal sampai ke tingkat SMK, sekarang hampir semua santri putri yang mondok di sana juga bersekolah formal.

Meskipun begitu, tetap ada beberapa wali santri yang menganggap bahwa anak-anaknya yang perempuan cukup sekolah sampai tingkat SMP saja. Bagi para orang tua seperti itu, yang penting anak-anaknya sudah bisa ngaji kitab, sudah paham fikih. Begitu lulus SMP, mereka biasanya dipamitkan oleh orang tuanya untuk dinikahkan. Dulu, Nyai Siti sering kesulitan mencari alasan untuk menahan santri putri yang mau dibawa pulang orang tuanya untuk dinikahkan. Namun, setelah dibangunnya sekolah SMK, Nyai Siti biasanya menahan santri putri yang masih baru lulus SMP dan mau dinikahkan oleh orang tuanya supaya melanjutkan sekolahnya sampai ke SMK dulu sebelum menikah. Alasannya, selain karena faktor usia yang masih terlalu muda kalau menikah selepas lulus SMP, Nyai Siti merasa bahwa anak perempuan juga perlu memiliki bekal pendidikan formal yang cukup sebelum menikah. Karena siapa tahu, anak tersebut juga ingin bekerja selain menjadi ibu rumah tangga. Dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi akan lebih membantu anak tersebut untuk memiliki pilihan yang lebih banyak untuk masa depannya.

Meskipun biasanya para orang tua santri sebenarnya keberatan anaknya harus melanjutkan sekolah dan mondok lagi, namun mereka juga tidak berani menentang dawuh Nyi Seppo. Akhirnya, mereka pun “terpaksa” mengizinkan anaknya untuk tetap tinggal di pondok dan menunda pernikahannya.

Memang sebagai seorang pemuka agama, setiap dawuh Nyai Siti pasti selalu didengarkan oleh masyarakat. Sehingga ketika Nyai Siti meminta agar santri yang mau dinikahkan selepas SMP itu mondok lagi dan melanjutkan sekolah sampai SMK, maka orang tua santri pun akan menuruti. Hal tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi Nyai Siti. Bahwa kekuatan ucapannya dijadikan sarana untuk terus memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak perempuan.

Namun, perjuangan Nyai Siti dalam mengupayakan pendidikan anak-anak perempuan juga mengalami begitu banyak kendala. Terlebih sepeninggal Kiai Ahmad Jazuli, Nyai Siti harus berjuang keras untuk mengurus baik pondok putera dan juga pondok putri. Dengan infrastruktur dan fasilitas yang masih sangat serba terbatas, Nyai Siti mau tidak mau harus sangat bekerja keras dalam melanjutkan perjuangan almarhum suaminya..

Impian yang Belum Terwujud

Tinggalkan Balasan