Obral Surga dengan Teologi Kebencian

Sebagaimana narkoba, virus teologi kebencian ini bisa menyerang siapa saja dan dari kelas sosial apa saja. Tidak hanya kelas bawah dengan ekonomi lemah, tetapi juga kelas menengah atas dengan derajad pendidikan tinggi bahkan kelas eksekutif yang sudah mapan secara ekonomi.

Setinggi apa pun pendidikan dan secerdas apa pun akal jika sudah terkena virus ini semua akan lumpuh dan hancur. Menjadi manusia yang hilang akal dan tuna rasa. Jika narkoba lebih banyak menyerang kaum nonagamis, virus ini justru mudah masuk di kalangan agamis dan bisa menembus kalangan nonagamis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Virus ini jelas lebih berbahaya dari narkoba, karena penyebarannya lebih masif. Bila bandar narkoba melakukan penyebaran secara sembunyi karena dia menjadi musuh semua orang, penyebaran virus teologi kebencian dilakukan secara terbuka dan agresif. Ini terjadi karena mereka menggunakan topeng agama, sehingga yang melawan dan melarang akan dengan mudah dicap sebagai penentang agama, kriminalisasi ulama dan sejenisnya. Inilah yang membuat aparat gamang menidak mereka dan masyarakat awam jengah menghadapi ulah para agen dan  “distributor” teologi kebencian ini.

Melihat dahsyatnya daya rusak virus teologi kebencian dan maraknya penyebarannya yang masif, maka perlu ada kesadaran semua pihak dan seluruh warga bangsa untuk menganggap virus ini sebagai musuh bersama dan bertindak secara tegas untuk memberantasnya. Jika tidak demikian, bukan tidak mungkin kita sudah berada di antrean menunggu giliran menjadi korban berikutnya.

Tinggalkan Balasan