Saudaraku, kita hidup di zaman buih keterapungan. Saat huruf-huruf tak jadi kata; kata tak jadi mantra. Kalimat tak jadi ayat; ayat tak menjangkau alamat.
Di seantero negeri, ucapan menggelembung mudah pecah tanpa isi yang bisa ditangkap. Makna menguap dalam keriuhan viral maya. Tindakan tersandera di belantara media sosial; kritik teringkus sebatas caci-maki tanpa substansi.

Orang-orang mudah berganti posisi tanpa konsistensi posisi etis. Pusat perhatian lekas bergeser dari suatu isu ke isu lain seperti ikan berebut umpan. Tak ada kesetiaan menggumuli masalah. Persoalan menjadi debu beterbangan yang menghilang sendiri diempas angin lalu.
Dalam kerumunan nunut hanyut, kesadaran takluk pada sihir kemasan. Jutaan orang tanpa tumpuan rentan terbius hipnotis pencitraan. Frustrasi gelombang hati yang ringkih mudah berserah pada titah mesiah gadungan.
