Tragedi Odeipus Complex itu oleh Freud digunakan untuk memperjelas teorinya yang kita kenal sebagai psikoseksual dalam karyanyaThe Interpretation of Dreams. Berdasarkan teori Freud, ada masanya anak laki-laki menginginkan belaian kasih sayang dari ibunya dan menganggap sang ayah sebagai pesaingnya; atau anak perempuan terobsesi dengan kasih sayang ayahnya dan memandang ibu kandungnya sebagai pesaingnya.
Kita kadang-kadang tidak berani menempatkan kenyataan sebagai kenyataan, bahkan sampai Freud pun merasa perlu memperkuat teorinya dengan mitologi Yunani itu. Sehingga, seakan-akan, ada pembenaran bahwa incest hanya bisa terjadi di alam mitologi. Persis, ketika kita mendaku hal seperti itu hanya terjadi pada dongeng Sangkuriang.

Konstruksi ceritanya nyaris sama. Kita disuguhi karakter Sangkuriang. Dalam cerita rakyat itu, ada seorang pangeran dari negeri Kahyangan jatuh cinta kepada Dayang Sumbi. Sang pangeran meminta restu kepada ayahnya. Restu diberikan dengan satu syarat: putra dewa itu harus berubah wujud menjadi seekor anjing saat Dayang Sumbi melahirkan anaknya. Dan itulah yang kemudian terjadi.
Ketika sedang berburu di hutan, tak sengaja Sangkuriang membunuh seekor anjing yang bernama Tumang, yang tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Ketika cerita itu disampaikan kepada Dayang Sumbi, amarah sang ibu meledak sampai memukul kepala Sangkuriang. Sangkuriang pun terusir dari rumah dengan membawa luka di kepala. Ketika suatu saat mereka bertemu kembali, tanpa tahu identitas masing-masing, anak dan ibu ini saling jatuh cinta dan berniat hidup bersama dalam satu bahtera rumah tangga.
Kita tahu, tragedi inilah kabut misteri yang melatari riwayat Gunung Tangkupan Perahu. Plotnya mungkin sedikit berbeda, tapi esensinya sama belaka: ada oedipus complex di sana. Ada incest di sana. Dan jika kita mengikuti proses penyusunan teori psikoseksual Freud, jelas teori itu tidak lahir dari ruang hampa. Ada fakta-fakta, ada gejala-gejala, yang memungkinkan teori itu ada.

Karena Oedipus Complex, atau incest, hubungan sedarah, atau apalah nama lainya merupakan gejala tealitas, kelaluan bukan kebaruan, maka diperlukan kewaspadaan paripurna untuk membentengi diri dan keluarga dari perbuatan menyimpang ini. Tidak cukup sekadar paham efek dan dampaknya, baik dari sisi agama maupun dari aspek kesehatan, namun yang paling penting adalah menjaga jarak (sejauh-jauhnya) dengan perbuatan haram ini. Tentu ada kiat-kiat khusus yang tidak dijelaskan oleh Mas Kiai Mukhlisin, yang patut dan pantas untuk kita ketahui.
Pointnya bahwa hubungan sedarah bukan hanya sebuah dongeng, metos, atau metologi, namun nyata adanya dalam kehidupan, dekat di antara pernak pernik kesibukan kita sehari-hari. Hee,,, kejadian ini begitu viral meskipun saya sendiri kurang mengikuti. “Waspadalah… waspadalah…!” Kata Bang NAPI,,,πππ