Begitu nyatanya gejala-gejala itu ada, sampai ada satu hadis yang menyinggung masalah ini. Inilah hadisnya: “Riba itu ada 73 dosa. Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang menzinai ibu kandungnya. Sedangkan, dosa riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Al-Baihaqi, dan dalam Syuabul Iman, Syekh Al-Bani menyebut hadis ini sahih. Apa yang dikatakan Nabi Muhammad dalam hadis ini jelas tidak datang dari ruang hampa. Bayangkan, untuk menggambarkan dosa riba, Nabi harus menganalogikan (atau diqiyaskan) dengan dosa meniduri ibu kandungnya atau saudara kandungnya.

Dengan konstruksi seperti itu, di zaman Nabi Muhammad, sangat mungkin gejala-gejala incest itu ada, dan nyata, seperti halnya perkara riba. Sebab, tidak mungkin dosa riba dianalogikan dengan dosa perzinaan dengan ibu kandung atau saudara kandung jika yang disebut terakhir tak pernah ada di tengah kehidupan masyarakatnya.
Kita boleh membuang jauh-jauh gejala itu ke alam mitologi. Tapi teori Freud membuktikan gejala itu tak pernah benar-benar hilang dari alam bawah sadar, dari timbunan mimpi-mimpi kita, bahkan hingga kini. Saya termasuk orang yang sesekali iseng bermain “roleplay” di jagat maya melalui platform percakapan anonymous. Di sana, “roleplay” dengan tema incest ternyata menjadi salah satu yang digandrungi. Entah itu incest antara anak-bapak, anak-ibu, atau saudara sekandung.
Artinya apa? Di alam bawah sadar generasi milenial kita, di bawah timbunan mimpi-mimpi generasi milenial kita, ada obsesi khusus terhadap perkara incest ini. Mungkin ada yang bisa menguburnya selamanya. Mungkin ada yang melampiaskannya melalui “roleplay”. Mungkin juga ada yang bisa “menjadikannya nyata” seperti yang terjadi di Bukittinggi itu.

Karena Oedipus Complex, atau incest, hubungan sedarah, atau apalah nama lainya merupakan gejala tealitas, kelaluan bukan kebaruan, maka diperlukan kewaspadaan paripurna untuk membentengi diri dan keluarga dari perbuatan menyimpang ini. Tidak cukup sekadar paham efek dan dampaknya, baik dari sisi agama maupun dari aspek kesehatan, namun yang paling penting adalah menjaga jarak (sejauh-jauhnya) dengan perbuatan haram ini. Tentu ada kiat-kiat khusus yang tidak dijelaskan oleh Mas Kiai Mukhlisin, yang patut dan pantas untuk kita ketahui.
Pointnya bahwa hubungan sedarah bukan hanya sebuah dongeng, metos, atau metologi, namun nyata adanya dalam kehidupan, dekat di antara pernak pernik kesibukan kita sehari-hari. Hee,,, kejadian ini begitu viral meskipun saya sendiri kurang mengikuti. “Waspadalah… waspadalah…!” Kata Bang NAPI,,,🙏🙏🙏