“Sinyal, Mak. Joni kehilangan sinyal. Bukan Inal, istrinya Joni itu,” sahut Bang Andre.
“Ah. Nggak jelas kali kau ngomong, Ndre. Sinal-sinal, apalah itu,” mamak menggerutu tak paham kosa kata baru dari anaknya. Dia memang tak paham teknologi, pendengarannya pun sudah sedikit terganggu. Bertelepon video ini saja dia butuh bantuan tetangga.

“Sinyal itu untuk nelepon, Mak. Bang Joni kehilangan sinyal, bukan Inal, istrinya yang baru itu,” ucapku berikutnya.
“Ah. Nggak bilang dari tadi kau ini, Din.”
Kami terbahak hingga beberapa saat.
“Sama bapak kalian ditanyai, kerja berapa tahun kalian ini, beli sinyal saja tak kuat. Berapa sebenarnya harga barang itu? Biar dijual sapi di kandang itu untuk beli sinyal. Agar mamak tetap bisa lihat wajah kalian di HP,” tanya mamak dengan mimik serius.
“Kau pinjami uang dulu abangmu itu, Din, biar mamak nggak jadi jual sapi,” pinta Bang Andre yang juga di Merauke, sambil ngakak.
“Nggak usah jual sapi, Mak, nanti Udin pinjami uang Bang Joni buat beli sinyal,” ucapku serius, dan kuat-kuat aku menahan tawa di depan mamak.
