Olok-olok

Pada derajat yang paling rendah, olok-olok adalah sebentuk candaan tanpa motif, tanpa pretensi. Ia adalah guyonan belaka. Tapi pada derajat tertentu, olok-olok adalah ekspresi dari kebencian, dari rasa benci. Kebencian dari seseorang kepada orang lain. Kebencian dari sekelompok orang kepada kelompok orang lain. Kebencian dari satu identitas kepada identitas lain.

Karena itu, olok-olok sebagai ekspresi dari kebencian ini akan melahirkan hal yang sama, bahkan lebih. Tak hanya memancing arus balik kebencian dari yang dibenci, tapi juga menimbulkaan kehinaan, kenistaan, kepada siapa olok-olok itu dialamatkan. Dan bermula dari olok-olok, akhirnya antarorang, antarkelompok, antarkomunitas, bahkan antarbangsa saling membenci dan saling memusuhi. Satu pemantik lagi ada alasan untuk berperang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kegaduhan yang muncul dari India hari-hari ini, sebuah misal, adalah contoh terbaik yang paling hangat bagaimana olok-olok itu bekerja. Umat Islam dari berbagai negara sedang mengarahkan kemarahan ke India. Hal itu sebuah kewajaran, sebenarnya, setelah diduga salah satu petinggi partai berkuasa di negara itu, Partai Bharatya Janata Party (BJP), Nupur Sharma melakukan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW dalam acara debat di televisi nasional India. Umat Islam tentu merasa terhina karenanya.

Namun, menurut pengakuan Nupur Sharma, apa yang ia ungkapkan sebenarnya merupakan balasan terhadap hal yang sama. Dalam acara debat di televisi tersebut, dari pihak Islam dinilainya telah melecehkan dan merendahkan simbol-simbol Hindu, yaitu Dewa Mahadev. Itulah, konon, yang melatarbelakangi “balas dendam” Nupur Sharma dengan ungkapan-ungkapan yang dinilai menghina Nabi Muhammad.

Apa yang terjadi di India itu, juga yang tersulut olehnya, terjadi juga di banyak tempat, termasuk di Indonesia —betapa kehidupan beragama dan kehidupan antarumat beragama di dunia akhir-akhir ini begitu memprihatinkan. Saling mengolok-olok dan saling menistakan hampir menjadi pemandangan sehari-hari. Akhir-akhir ini, misalnya, di Indonesia banyak pendakwah yang jika berdakwah seringkali mengolok-olok, menyudutkan, bahkan dinilai termasuk ke dalam tindak penistaan terhadap simbol-simbol agama lain atau umat penganut agama lain. Hal seperti itu dilakukan oleh pendakwah dari hampir semua agama. Bahkan, antarkelompok dalam satu agama pun juga terjadi saling olok dan saling menistakan jika apa yang diakui sebagai kebenaran ternyata berbeda-beda.

Fenomena seperti ini kemudian diamplifikasi oleh para pengikut atau followers melalui berbagai platform medsos di jagat maya. Melalui peranti digital inilah, antarumat beragama ini kemudian saling menabur olok-olok, menyemai benih-benih kebencian, hingga akhirnya saling menyakiti dan saling memusuhi. Banyak yang sudah terbui karena ini.

One Reply to “Olok-olok”

Tinggalkan Balasan