Orang-orang Miskin

***
“Ya Allah, Pak. Kenapa itu wajahmu Pak? Kok, sampai berdarah-darah gitu?” tanya Bu Inah khawatir akan keadaan suaminya.

“Kena hantaman oleh geng Pak Yadi, Bu. Jatah bantuan Bapak tadi direbut oleh Pak Yadi.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Ya Allah, Pak. Sudah enggak usah ngandelin sembako bantuan lagi. Kita juga, kan, masih punya sepetak sawah yang bisa kita garap. Bersyukur, Pak.”

Sedih. Bu Inah mengelus dada, lalu segera mencari obat untuk mengobati luka-luka suaminya.

Sebelum diadakannya bantuan dari desa, keluarga Pak Arman sudah sanggup makan setiap hari. Cukup. Tidak kurang dan tidak lebih. Maka dari itu, istri Pak Arman itu tak terlalu ambil pusing tentang sembako bantuan dari desa. Dapat, ya, bersyukur. Tidak dapat, ya, bersyukur pula. Sebab, sudah dianggap sebagai warga kaya, sehingga tak perlu diberi sembako lagi.

“Jadi tadi yang dapat jatah bantuannya Pak Yadi?” tanya Bu Inah penasaran.

“Enggak. Belum ada yang dapat, karena ricuh tadi.”

“Siapa pun yang nanti dapat, biarkan saja, Pak. Kita enggak usah ngandalin bantuan sembako. Kita fokus garap sawah kita saja, supaya dapat hasil yang memuaskan.” Bu Inah mencoba menasihati suaminya.

“Tidak! Pokoknya Bapak enggak rela, kalau yang dapat keluarga Pak Yadi.” Lelaki itu berdecak kesal.
Bu Inah tak bisa mengendalikan suaminya. Dalam hati wanita itu hanya bisa berdoa, supaya suaminya sadar akan perbuatan yang dilakukan. Wanita berdaster itu dengan telaten membersihkan, lalu mengobati luka suaminya. Sabar.

Tinggalkan Balasan