Orang-orang Miskin

Suara air mendidih dari dapur mengagetkan Bu Inah yang tadi lupa telah merebus air untuk membuat kopi sang suami. Untung saja ketahuan, istri Pak Arman itu segera sadar. Kemudian, dengan cepat Bu Inah menuju dapur dan membuatkan secangkir kopi untuk Pak Arman.

***
Pagi ini kantor desa kembali kedatangan Pak Arman dan Pak Yadi. Mereka akan mendengarkan keputusan dari kepala desa atas siapa yang berhak mendapat bantuan bulan ini. Walaupun masih pagi, suasana di depan kantor desa berubah menjadi panas kembali. Pak Arman dan Pak Yadi saling melempar alasan mereka harus mendapatkan bantuan sembako tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh … baik, bapak-bapak. Untuk sembako yang bulan ini akan saya salurkan ke rumah tahfiz milik Pak Haji Imron. Kemarin beliau bercerita kalau rumah tahfiznya sedang kekurangan donasi. Maka dari itu, saya putuskan untuk diberikan ke rumah tahfiz saja. Lagi pula rumah tahfiz milik Pak Haji Imron, kan, di desa kita juga,” Pak Ahmad memberikan keterangan.

“Betul bapak-bapak. Rumah tahfiz saya sekarang muridnya bertambah, sedangkan donaturnya belum ada yang cair. Mohon diikhlaskan ya, bapak-bapak. Terima kasih,” lelaki berpeci putih di samping Pak Ahmad angkat bicara, lantas menyuguhkan seulas senyum.

“Sudah jelas, ya, Pak. Sekarang, silakan pulang ke rumah masing-masing dengan lapang dada. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas perhatian. Wassalamualaikum.”

“Pak, keluarga saya sudah habis persediaan sembakonya, tolonglah, Pak,” rengek Pak Yadi. Namun, tak ditanggapi oleh kepala desa itu.

Terpampang jelas wajah Pak Arman dan Pak Yadi muram. Lemas. Bagaimana tidak? Setelah dua hari berjuang saling mengaku berhak mendapat bantuan sembako. Eh, ternyata berakhir nihil. Pulang dengan tangan kosong semua.

Pak Ahmad mengumumkan dengan detail. Kemudian, kembali masuk ke ruangannya. Dia tak mau ada perselisihan antarwarganya karena iri dan cemburu. Jadi, dia putuskan saja supaya semuanya tak dapat bantuan sembako bulan ini.

Tak berapa lama suara gaduh di luar kantor kepala desa Suka Wangi usai. Sementara Pak Haji Imron undur diri untuk kembali ke rumahnya, setelah perkara selesai. Kepala desa itu mengintip dari jendelanya. Ternyata warga yang berlomba mengaku paling miskin itu sudah meninggalkan area kantor desa. Dia berharap supaya kejadian serupa tidak terulang di desa yang dipimpinnya. Niat baik desa memberikan sembako, malah dijadikan ajang kontes kemiskinan. Saling mengaku miskin. Sayang sekali.
***
Riau, 9 November 2021.

Tinggalkan Balasan