Overthinking Karamah

Sebetulnya, jika diukur dari kemuliaan dan kedekatan kepada Allah, orang yang berilmulah yang paling tinggi nilainya. Ilmu pengetahuan dari seorang waliyullah lebih tinggi nilainya daripada sekadar karamahnya. Sebab, karamah yang terdapat dalam diri seorang waliyullah hanya akan dinikmati oleh dirinya sendiri, berbeda dengan ilmu yang diamalkan dan disebarkannya. Ilmu yang diajarkan oleh seorang waliyullah akan sangat bermanfaat dan menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus sampai kapanpun. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa, “Kebaikan yang berjalan lebih baik dari kebaikan yang terbatas.”

Syaikh Abdul Wahhab As-Sya’rani dalam Al-Ajwibah Al-Murdhiyah juga menyinggung hal ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

إعلم أن ما يفتح الله تعالى به على قلوب الفقهاء من استنباط المسائل أعظم نفعا مما يفتح الله به على الأولياء من الكرامات و الخوارق لأن نفع الكرامات قاصر و نفع الاستنباطات متعد إلى الأمة

Artinya: “Ketahuilah bahwa ilmu yang Allah berikan kepada para fukaha dari hasil istinbat (penelusuran hukum) itu lebih besar manfaatnya dari karamah dan keajaiban yang Allah berikan kepada para awliya-Nya. Karena manfaat karamah itu terbatas, sedangkan manfaat ilmu itu sampai kepada ummat.”

Syekh Fariduddun Al-Atthar menyebutkan kisah unik antara sang sufi, Imam Hasan al-Bashri dengan Rabi’ah al-Adawiyah dalam kitab Tadzkiratul Auliya. Suatu saat, Rabi’ah terhenti saat lewat depan rumah Hasan al-Bashri lantaran tetesan air yang mengenainya. Awalnya dikira air tersebut adalah air hujan, namun saat menoleh ke atas, ternyata berasal dari air mata Hasan al-Bashri.

Rabi’ah berkata, “Wahai Syekh, tahanlah air mata itu dalam dirimu sehingga menjadi lautan. Engkau tidak akan menemukan jati dirimu kecuali mencarinya kepada Sang Raja yang Maha Perkasa.”

Hasan al-Bashri hanya diam tanpa jawaban. Air mata yang mengalir karena renungan mendalam padanya yang tak mampu dia bendung. Hasan al-Bashri lalu mengambil sajadah dan meletakkannya terapung di atas air. Ia berkata, “Kemarilah Rabi’ah, kita salat dua rakaat.”

Rabi’ah, yang juga seorang sufi dengan ajaran mahabbahnya, merespon dengan menampakkan karamah. Ia membuka sajadahnya dan menerbangkan di udara sembari berkata, “Kemarilah wahai Syekh, kita salat di atas udara saja biar orang-orang melihat karamah kita.”

Tinggalkan Balasan