Tanpa jawaban lagi, Hasan al-Bashri hanya termenung dan tertegun, merasa ada yang perlu diperbaiki dalam laku sufinya.
Rabi’ah melanjutkan, “Wahai Syekh, apa yang engkau lakukan itu bisa dilakukan oleh ikan, dan yang saya lakukan bisa dilakukan oleh lalat. Fokus kita sebenarnya ialah bersungguh-sungguh dalam amalan kita.”

Akhiron, karamah memang suatu kelebihan yang Allah anugerahkan pada hamba-hamba pilihan, dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Namun, karamah harus diletakkan dalam koridornya sebagai salah satu anugerah tanpa mengesampingkan anugerah lain, yaitu ilmu yang sebenarnya lebih penting untuk diurai. Kenapa? Karena eksistensi agama Islam dikawal oleh ilmul ulama, bukan karamatul auliya.
Referensi :
1. At-Ta’rifat karya Imam al-Jurjani.
2. Al-Ajwibah Al-Murdhiyah karya Syaikh Abdul Wahhab As-Sya’rani.
3. Tadzkiratul Auliya’ karya Syekh Fariduddun Al-Atthar.
