PADA HARI KETIKA NAMA MEREKA DISEBUT LAGI

2/
di televisi seorang pejabat berbicara
tentang semangat juang.
tangannya memegang mikrofon
lebih erat dari rakyatnya.
di jalan raya, patung seorang pahlawan berdiri
menghadap mall, bukan medan perang.
burung-burung hinggap di bahunya
dan debu selfie menempel di dadanya.
aku kira mereka semua sudah tenang di surga
tapi mungkin mereka menjerit—
melihat sejarah dijual dalam bentuk promosi diskon.

3/
di sebuah kampung, nenek tua masih menyalakan pelita
ia tak tahu kenapa listrik padam,
tapi katanya begitulah cara mengenang
orang-orang yang dulu berperang tanpa sorotan kamera.
di dinding rumahnya tergantung kalender kusam:
foto seorang pahlawan dengan mata yang menatap jauh—
bukan ke masa depan
tapi ke masa kini yang gagal ia bayangkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

4/
suatu malam aku bermimpi:
para pahlawan turun dari uang kertas.
mereka berjalan tanpa alas kaki
melewati iklan pembangunan dan baliho politik.
salah satu dari mereka berkata,
“kami tidak mati untuk menjadi gambar.
kami mati agar kalian bisa berkata jujur.”
aku terbangun dengan dada sesak
karena pagi ini, kejujuran terdengar lebih asing
daripada bahasa penjajah.

5/
dan kini negeri ini terus bernyanyi:
tentang kemerdekaan yang diulang-ulang
hingga kehilangan rasa.
bendera tetap berkibar
tapi angin yang meniupnya sudah lelah.
di antara gema lagu nasional
dan gemerincing gaji para wakil rakyat
ada sunyi yang tak ikut berdiri tegak:
sunyi para pahlawan
yang menatap kita dari kejauhan
mungkin kecewa,
mungkin hanya menunggu—
kapan kita benar-benar merdeka
tanpa harus meminjam kata dari masa lalu.

Tinggalkan Balasan