Mbah Roso mendesis pelan, membuka matanya, menatap tajam wajah Pak Lurah Nepo. “Pak Lurah, aku belum melihat pulungnya. Pulung itulah yang jadi pandu.”
“Tak perlu menunggu pulung untuk itu Mbah.”

“Hah? Maksudmu, Konoha-ha dipimpin orang tanpa dasar pulung? Apa kata anak cucu kita nanti?’
“Mereka akan melupakannya Mbah.”
Hening. Kemudian Mbak Roso undur diri tanpa memberikan jawaban. Pak Lurah Nepo hanya bisa memandangi punggung tetua desa itu sampai tubuhnya hilang ditelan malam.
Malam itu, sepulang dari membesuk Pak Lurah Nepo, Mbah Roso tidak langsung masuk ke rumahnya. Ia memilih duduk sendirian di pelataran. Ia duduk bersila dalam kegelapan. Sendirian, Mbah Roso seperti akan menghabiskan malam di pelataran rumah. Ketika tubuhnya diterpa angin yang kian dingin, mata Mbah Roso terbuka lebar, lurus menatap ke arah rumah Pak Lurah Nepo. Persis di saat itulah, ia melihat cahaya biru kehijauan melesat cepat dari atas rumah Pak Lurah Nepo. Cahaya itu berputar-putar sebentar di atas rumah Pak Lurah Nepo, kemudian meluncur semakin tinggi, sampai ditelan awam hitam. Mbah Roso kehilangan jejak, tidak tahu pulung itu jatuh di mana.
Esok paginya, kabar Mbah Roso melihat pulung namun kehilangan jejaknya itu sudah mulai tersebar dari rumah ke rumah, juga melalui pematang-pematang sawah. Beberapa petani yang berpapasan di pematang sawah pun berhenti sejenak untuk memperbincangkan kabar Mbah Roso kehilangan jejak pulung itu.
“Desa kita kehilangan pulung ya Kang?”
“Iya. Kita akan dipimpin orang yang tak punya pulung.”
“Desa kita bisa jadi tertawaan orang nanti.”
“Mau bagaimana, kalau itu sudah takdir.”
