Panca Kesadaran Santri Nurul Jadid

Hal tersebut juga berarti bahwa santri Nurul Jadid harus mempunyai tata krama dan sopan santun yang adiluhung seperti yang diajarkan Nabi Muhammad yang diutus untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak tidak hanya berkaitan dengan pribadi, namun juga lingkungan sosial, berperilaku baik kepada masyarakat, amar makruf nahi munkar, dan berbagai tindakan mulia lainnya.

Kedua, al-Wa’yu al-ilmi (Kesadaran Berilmu). Para santri harus mencari ilmu seumur hidupnya, bukan sebatas waktu di pondok pesantren. Kiai Zaini mengkategorikan ilmu ke dalam dua bagian: ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua ilmu tersebut harus dipelajari oleh para santri dengan tujuan ilmu agama dapat bahu membahu dengan ilmu pengetahuan umum, sehingga dapat menciptakan lingkungan yang bagus. Mengkombinasikan keduanya, tidak hanya fokus kepada ilmu agama saja, sebab ilmu pengetahuan umum juga dibutuhkan pada suatu waktu.

Bahkan Kiai Zaini pernah mengutip pendapat Albert Einstein, walaupun bagian agama dan ilmu umum terpisah antara satu dengan lainnya, namun antara keduanya terdapat hubungan yang kuat. Ilmu tanpa agama lumpuh dan agama tanpa ilmu buta.

Aktualisasi kesadaran berilmu di Pondok Pesantren Nurul Jadid, diterapkan pada semua sektor pendidikan sejak bangku sekolah dasar sampai dunia perkuliahan.

Ketiga, al-Wa’yu al-Hukumi wa as-Syu’bi (Kesadaran Berbangsa dan Bernegara). Tidak dapat dimungkiri bahwa ulama dan santri juga terlibat dalam kemerdekaan Indonesia, ikut berperan mengusir penjajah dari tanah air. Bahkan, salah satu motif ulama dalam mendirikan Nahdlatul Ulama adalah untuk menciptakan semangat juang dan cinta tanah air.

Dalam konteks itu, para kiai bekerja sama berperan aktif bersama masyarakat dan santri untuk menjaga keutuhan negara dari perpecahan dan konflik. Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia kemudian berhasil dipukul mundur dan hal tersebut menjadi bukti tentang cinta tanah air dari kalangan pesantren.

Tinggalkan Balasan