Panca Kesadaran Santri Nurul Jadid

Kiai Zaini yang juga ikut berjuang melawan Belanda dengan semangat dan daya juangnya membela tanah air. Semangat berbangsa dan bernegara tersebut kemudian diwariskannya kepada para santri. Santri harus mempunyai rasa tanggung jawab untuk menjaga keutuhan negara. Bagi santri, cinta tanah air merupakan bagian dari bukti keimanan (hubbul wathon minal iman).

Keempat, al-Wa’yu al-Ijtima’i (Kesadaran Bermasyarakat). Pesantren dan santri tidak boleh menjauh dari masyarakat. Pesantren harus melebur dengan masyarakat. Sebab, tidak dapat dinafikan bahwa keberadaan pesantren lahir di masyarakat. Pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Relasi yang dihasilkan masyarakat akan merasa mempunyai pesantren dan sebaliknya pesantren mempunyai masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketika keduanya saling mendukung, maka bentuk kegiatan yang diadakan pesantren akan didukung oleh lingkungan sekitar. Nilai-nilai dakwah Islam juga lebih mudah disampaikan kepada masyarakat. Berbanding terbalik jika terdapat kesenjangan antara pesantren dan masyarakat. Ruang gerak pesantren akan menjadi sempit dan nilai dakwah akan sulit berkembang.

Kelima, al-Wa’yu an-Nidzomi (Kesadaran Berorganisasi). Organisasi merupakan bagian yang penting bagi para santri dan pesantren. Keberadaan organisasi yang efesien dan efektif dapat menguatkan esensi pesantren, terlebih agama Islam.

Karena itu, Kiai Zaini menuntut para santri untuk mempunyai kesadaran dan kemampuan dalam mengelola organisasi. Untuk itu, di pesantren para santri juga diberi wadah untuk mengelola organisasi seperti Forum Komunikasi Santri Daerah (FKS-D), organisasi sekolah maupun kampus, bahkan organisasi yang mempunyai relasi ke luar pesantren.

Panca Kesadaran Santri merupakan pedoman yang harus dimiliki santri Nurul Jadid sebagai pembeda dengan orang lainnya. Para santri juga mempunyai kewajiban untuk terjun dan berkiprah di masyarakat dengan bekal Panca Kesadaran Santri tersebut.

Tinggalkan Balasan