Mungkin karena terlalu sering mendengar Pancasila dalam upacara, kita justru lupa melihatnya dalam kehidupan sendiri dalam keseharian. Kita hafal lima silanya, tetapi terkadang lupa ketika melihat teman membutuhkan bantuan. Kita berbicara tentang persatuan, tetapi masih mudah terpecah hanya karena perbedaan pendapat.
Karena itu, Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya tentang mengingat sejarah. Ia juga menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana nilai Pancasila benar-benar hidup dalam diri kita?

Di pondok pesantren, jawabannya mungkin tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Bisa saja jawabannya adalah ketika kita tetap ikut roan meskipun sedang malas. Ketika kita membantu teman yang kesulitan. Ketika kita mau mendengarkan pendapat orang lain. Atau ketika kita memilih menjaga kebersamaan daripada memperpanjang perbedaan.
