Adapun, terhadap penyebab yang kedua, kita bisa sejenak menengok ke belakang untuk melihat bagaimana Pancasila diperlakukan oleh rezim yang berbeda. Rupanya, tradisi memperingati hari lahir Pancasila baru dimulai pada 1964, setelah 19 tahun Indonesia merdeka, setelah 19 tahun Pancasila menjadi dasar negara.
Saat itu Presiden Soekarno gelisah karena banyak pihak yang mulai mencoba-coba menyelewengkan Pancasila. Maka, pada 1 Juni 1964 diadakanlah upacara kenegaraan di Istana Merdeka untuk memperingati hari lahir Pancasila —tentu ini mengacu pada pidato Soekarno 1 Juni 1945. Sejak itu, tiap tahun, tiap 1 Juni, diadakan peringatan hari lahir Pancasila, lalu terhenti ketika rezim Orde Baru berkuasa.

Ketika Soeharto mengambil alih kekuasaan, ia membuat hari besar baru. Pada 17 September 1966, ia menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Ini dimaksudkan untuk memperingati keberhasilan Soeharto dalam menggagalkan kudeta dan menumpas gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ingin mengganti ideologi Pancasila. Soekarno dituduh terlibat dalam peristiwa ini.
Sejak itu, tiap 1 Oktober diadakan upacara kenegaraan untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Memang, hingga tahun 1968 masih ada peringatan hari lahir Pancasila pada 1 Juni. Namun, sejak 1970 mulai ada larangan untuk memperingati hari lahir Pancasila pada 1 Juni. Yang boleh hanyalah peringatan Hari Kesaktian Pancasila tiap 1 Oktober. Yang tetap mengadakan perayaan hari lahir Pancasila pada 1 Juni akan dianggap sebagai antek Soekarno, antek komunis.
Saat itu ada sebutan “desoekarnoisasi”. Istilah ini merujuk pada adanya upaya pengaburan dan penghapusan jejak-jejak perjuangan dan pengorbanan Soekarno pada Indonesia. Baru setelah Orde Baru runtuh, orang kembali mulai bisa mengadakan peringatan hari lahir Pancasila pada 1 Juni tanpa khawatir ditangkap Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Dan 46 tahun kemudian, era reformasi kemudian mengembalikan tradisi yang dimulai Soekarno dengan menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila.
Lalu, apakah yang menolak ketetapan 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila sebagai bagian dari Orde Baru yang telah tumbang? Entahlah. Mungkin ini sekadar kebetulan, jika kita cermati lebih teliti, yang menentang 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila kebanyakan berasal dari kelompok-kelompok kekuatan yang memang bertentangan atau berseberangan dengan yang menetapkannya —betapa pun beragam dalih dan dalilnya. Atau, setidaknya, mereka yang membaca sejarah secara sepotong-sepotong.

Logika saya lebih kepada 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, dengan dua alasan, pertama, Pancasila pertama kali diperkenalkan oleh Soekarno, kedua, Kepres 24 2016. Apapun itu, kalimat yg terakhir dari artikel ini “Pancasila lahir dari rahim suci Ibu Pertiwi, kapan pun ia dilahirkan ke bumi Indonesia.
Logika saya lebih kepada 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, dengan dua alasan, pertama, Pancasila pertama kali diperkenalkan oleh Soekarno, kedua, Kepres 24 2016. Apapun itu, kalimat yg terakhir dari artikel ini “Pancasila lahir dari rahim suci Ibu Pertiwi, kapan pun ia dilahirkan ke bumi Indonesia,” adalah sebuah hakikat pancasilais yang mengagumkan.