Pandemi dalam Teori Subsistensi

Jika para petani melakukan perlawanan dan protes pada negara untuk menjauh dari garis deprivasi yang mengancam hidupnya, maka para pekerja seni yang sekarang juga berada di garis deprivasi untuk melakukan gerakan moral kebudayaan melalui tindakan mengetuk hati sesama teman. Mereka tidak bisa melakukan gerakan seperti petani, karena lawan yang dihadapi berbeda. Dalam kasus petani, lawan mereka adalah jelas, negara yang berkolaborasi dengan pemilik modal yang membuat kebijakan merugikan petani. Yang dihadapi para seniman pekerja seni sekarang adalah adalah wabah yang mengancam semua golongan lapisan sosial.

Dalam konteks ini, para seniman dan pekerja seni lainnya yang sudah berada di garis derivasi, bisa mengambil spirit dari teori subsisten ini, yaitu melakukan gerakan moral untuk mendahulukan keselamatan dan menjauhkan diri dari garis bahaya (garis deprivasi). Prinsip mendahulukan keselamaan merupakan sumber kekuatan yang memungkinkan teman-teman seniman dan pekerja seni lainnya bisa bertahan dalam menghadapi krisis di tengah pandemi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Upaya teman-teman mengetuk hati sesama kolega melalui pesan WA merupakan bentuk “subsistensi” mereka untuk menjauh dari garis bahaya demi mendahulukan selamat. Dan ini merupakan langkah yang baik daripada mereka melakukan protes secara anarkhi yang justru bisa memperkeruh suasana, atau bertahan dalam kesulitan demi menjaga marwah sehingga tenggelam dalam gelombang krisis.

Jika para petani menempuh jalan perlawanan sebagai strategi menjauh dari garis deprivasi dan mengutamakan keselamatan untuk bertahan hidup, para seniman menggunakan kekuatan kultural dan moral untuk menjauh dari garis bahaya. Mereka menjadikan solidaritas, empati, dan peduli sebagai titik pijak untuk bertahan dan menghindari garis deprivasi yang sudah berada di lubang hidung. Inilah saatnya kekuatan kultual menjadi sabuk pengaman (safety belt) dalam menghadapi krisis di tengah pandemi ini.

Tinggalkan Balasan