Pantulan Kebhinekaan di Desa (2): “Suran” di Tutup Ngisor

Akan tetapi, mereka tidak menjalankan syariat Islam seperti salat lima waktu, puasa, haji, dan  membayar zakat. Hal  tersebut karena mereka percaya bahwa  roh-roh nenek moyang dan sing mbau  rekso yang menguasai Pulau Jawa dan dusun Tutup Ngisor akan menjaga dan memberikan apa yang mereka inginkan asal mereka masih tetap menjalankan  ritual-ritual penting terutama ritual Suran.

Sementara kelompok kedua yang jumlahnya jauh lebih sedikit adalah yang menjalankan ajaran-ajaran Islam seperti salat lima waktu dan puasa Ramadan, membayar zakat, dan beberapa telah menunaikan ibadah haji. Kelopmpok ini pun,  selain taat menjalankan syariat Islam, juga masih sangat percaya bahwa adat, tradisi, dan ritual-ritual setempat di Tutup Ngisor sangat penting. Sebagian kecil prnduduk Tutup Ngisor lainnya beragama Katholik taat dan rajin ke gereja, tetapi juga tetap berpegang teguh pada adat, tradisi, dan ritual Tutup Ngisor.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mereka secara bersama-sama melakukan dengan khusyuk Suran, Riyaya, dan 17 agustusan, ketiga ritual yang selalu dilaksanakan dengan spesifik dan khas oleh setiap warga Tutup Ngisor dengan subtansi dan cara yang berbeda dengan yang selama ini berlaku di kalangan warga masyarakat pada umumnya  di luar Tutup Ngisor.

Tinggalkan Balasan