Ritual Suran di Tutup Ngisor dilakukan dengan kenduri bersama seluruh warga untuk memohon ketenteraman lahir-batin, keselamatan dari marabahaya, dan tata kehidupan bersama tanpa mem-beda-kan tetap dianugrahkan kepada warga setempat. Ini berbeda dengan ritual suran di daerah lain yang dirayakan dengan membuat jenang (bubur) merah-putih dan diantar ke tetangga-handaitaulan yang hampir kabur maknanya, atau di Ponorogo yang dikenal dengan suroan yang dirayakan dengan melekan semalam penuh ditambah dengan berjalan kaki mengumpul di alun-alun, atau, seperti yang dilakukan kaum puritan Islam, ditransformasi menjadi Muharam, peringatan tahun baru hijriah.
Riyaya, berbeda umumnya di tempat lain untuk saling memaafkan, di Tutup Ngisor dilaksanakan untuk menguatkan tali persaudaraan (tata hubungan sosial) sesama umat manusia tanpa memandang perbedaan kelas, martabat, agama, dan kebudayaan. Sementara “Tujuhbelas Agustusan”, disamping untuk ikut serta menghormati kemerdekaan (tanpa keramaian seperti di tempat lain), lebih khusus untuk berkirim ujub kepada leluhur dan yang mbaurekso Tutup Ngisor. Ketiga ritual yang dipatuhi oleh semua kelompok sosial (Kejawen, Islam taat, dan Katholik) dan dimplementasikan dalam keseharian mereka itu dikembangkan oleh Romo Yoso Soedarmo yang kini dirawat dan lestarikan oleh cucunya, S Anjalin.

Dalam kehidupan sehari-hari hubungan antar-penganut Islam berbeda varian itu dengan yang beragama Katolik sangat baik: mereka guyup, rukun, tidak pernah terjadi pertentangan, apalagi konflik. Mereka hidup rukun dan tenteram dalam satu payung: adat dan tradisi ritual Suran.
