Para Pencadu Ilmu

‎ذُبِحَ العلمُ بين أفخاذِ النساءِ

Artinya: “Ilmu itu telah disembelih di antara paha para wanita.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di luar itu ada ungkapan lain yang serupa, dengan konroversi yang sama: “Ilmu itu telah hilang dalam paha para wanita.” Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa kenikmatan menikahi seorang wanita terkadang dapat menjadikan penghalang bagi seseorang untuk menuntut ilmu.

Tentang kenikmatan tenggelam dalam samudra ilmu seperti dilakukan para tokoh tersebut juga pernah diungkapkan Ibnul Qayyim rahimahullah, seperti ini:

‎فَالنِّعْمَةُ الْمُطْلَقَةُ: هِيَ الْمُتَّصِلَةُ بِسَعَادَةِ الْأَبَدِ وَهِيَ نِعْمَةُ الْإِسْلَامِ وَالسُّنَّةِ وَهِيَ النِّعْمَةُ الَّتِي أَمَرَنَا اللَّهُ سُبْحَانَهُ أَنْ نَسْأَلَهُ فِي صَلَاتِنَا أَنْ يَهْدِيَنَا صِرَاطَ أَهْلِهَا

Artinya: “Nikmat muthlaqoh adalah nikmat yang mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu nikmat Islam dan sunnah. Nikmat inilah yang diperintahkan oleh Allah kepada kita untuk memintanya dalam doa kita agar Allah menunjukkan kepada kita jalan orang-orang yang Allah karuniakan nikmat itu kepadanya.”

Derajat Orang Berilmu

Berdasarkan keterangan tersebut, KH Mujib Imron, Pengasuh Pondok Pesantren Alyasini, menegaskan bahwa seseorang yang telah merasakan nikmat ilmu pengetahuan tidak akan tergiur dengan kehidupan luar. Ini sangat dalam penjelasannya, serta memerlukan elaborasi penjelasan dari berbagai dalil.

Menurut KH Mujib Imron, soal kenikmatan ilmu pengetahuan ini jangan ditempatkan sebatas pada wilayah kata-kata mutiara yang menjadi hiasan status di media sosial. Sebab, ada tujuan yang jelas yang ingin digapai oleh para para pencari ilmu. Begitu pula bagi santri dan mahasantri masa kini. Hal ini harus menjadi kesadaran agar tidak menjadi golongan yang sederajat dengan hewan, yang hanya menemukan kenikmatan atau kelezatan makan, minum, dan berhubungan badan.

Pandangan Kiai Mujib tersebut didasarkan dari perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah:

‎وَمن لم يغلب لَذَّة إِدْرَاكه الْعلم وشهوته على لَذَّة جِسْمه وشهوة نَفسه لم ينل دَرَجَة الْعلم ابدا فَإِذا صَارَت شَهْوَته فِي الْعلم ولذته فِي كل إِدْرَاكه رجى لَهُ ان يكون من جملَة اهله وَلَذَّة الْعلم لَذَّة عقلية روحانية من جنس لَذَّة الْمَلَائِكَة وَلَذَّة شهوات الاكل وَالشرَاب وَالنِّكَاح لَذَّة حيوانية يُشَارك الانسان فِيهَا الْحَيَوَان

Artinya: “Barangsiapa yang tidak bisa memenangkan kelezatan mengenal ilmu dan syahwat (terhadap ilmu) di atas kelezatan badan dan nafsu syahwatnya, maka dia tidak akan meraih derajat ilmu sama sekali. Apabila syahwatnya tertuju pada ilmu dan kelezatannya tertuju pada meraih ilmu tersebut, maka bisa diharapkan bahwa dia termasuk dalam orang yang berilmu. Kelezatan menuntut ilmu adalah kelezatan bagi akal dan ruh, sejenis dengan kelezatan (yang dirasakan) malaikat. Adapun, kelezatan syahwat, makanan, minuman, dan hubungan badan adalah kelezatan khayawaniyyah (kebinatangan), yang di dalamnya bersekutu antara manusia dan hewan.”

Tinggalkan Balasan