Paradoks Keberagamaan di Indonesia

Namun dari segelintir ‘perayaan agama’ ini tidak sejalan dengan maraknya tindakan korupsi di negeri ini. Sejalan dengan ini, Ihya Ulumuddin karangan Imam Ghazali menganggap korupsi tidak hanya merupakan dosa besar, namun juga dapat merusak tatanan sosial.

Bahkan analisa dari Rober W, Hefner dalam Shari`a and Citizenship in Indonesia (2011) mengatakan, salah satu faktor dari suburnya korupsi di Indonesia ialah tidak ada kesesuaian antara ajaran moral agama dan struktur birokrasi serta politik di Indonesia.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, hemat penulis, saduran Hefner tidak tepat secara sempurna. Hal itu mempertimbangkan posisi moral sebagai sumber atas tindakan manusia. Karenanya, jika seseorang tetap melakukan tindak kejahatan, berarti ia tidak memosisikan moral agama sebagai pijakan.

Memang, tidak hanya korupsi, kejahatan-kejahatan lainnya yang tak sedikit jumlahnya juga hadir di tengah-tengah ‘perayaan agama’. Kekerasan seksual di lembaha-lembaga pendidikan agama menjadi salah satu persoalan yang kini ramai dan tidak mudah untuk ditangani. Alih-alih mencegah kekerasan seksual, ruang agama justru juga menyumbang jumlah kasus menjadi semakin banyak.

Memang, inkonsistensi antara ajaran agama dan perilaku umat beragama menjadi tantangan yang musykil bagi umat beragama. Nyatanya, tak sedikit kasus kekerasan seksual yang menyeret para pemuka agama sebagai pelaku.

Tinggalkan Balasan