“Babi-babiku mati!”
“Ha!” seketika Pardi bangkit dari kursi malas.

“Bukan hanya aku, tapi Suki peternak babi yang lain juga mengalami hal serupa.”
Pardi duduk kembali, mendengus sambil menunduk.
Dengan suara lemah, “babi-babiku juga mati,”
“Apa?”
Pardi mengangguk. “Kita harus bakar babi kita yang mati, takutnya mereka terkena wabah,”
Joko yang sebenarnya ingin berbicara mengenai babinya, urung, lalu mengiakan perkataan Pardi karena itu solusi terbaik.
Babi-babi yang malang. Ketika Asti telah mengumpulkan kayu bakar dan menatanya dengan rapi, lalu Pardi menaruh babi-babinya di atas tumpukan kayu—hanya beberapa—lalu api menyala membakar binatang yang malang itu. Sebagian babinya dia kubur di tempat yang jauh. Dan saat pulang, dan matahari sudah tenggelam, bagaimana jika aku diposisi mereka? tiba-tiba pertanyaan itu terbesit begitu saja.
Setibanya di rumah, Pardi menyempatkan menengok kandang, kemudian masuk ke dalam yang disambut hangat istrinya. Hidangan malam tersaji nikmat, tapi selera makannya sedang tidak enak. Dia urung makan, dan tinggal Asti dan satu anaknya.
“Kenapa bapak tidak makan?” tanya Ika, anaknya.
“Tidak ada apa-apa, mungkin Bapak masih kenyang,” mata Ika mengarah pintu kamar Pardi mengharap bapaknya keluar dan makan bersama. Tapi, sampai Tati selesai makan pun Pardi tetap tidak keluar. Ika tidak menghabiskan makannya.
“Kenapa gak dihabisin?”
“Kenyang, Ma.”
Ika langsung masuk ke kamar, dan Asti tahu apa sebabnya.
Esoknya, terdengar kabar bahwa dua peternak babi di pedukuhan mendapat babi-babinya mati. Joko telah membongkar kandang dan dibangun sebuah rumah kecil. Seiring waktu peternak yang babinya mati memilih beternak ayam atau bebek, atau ada pula yang memilih seperti Joko. Namun tak banyak yang kembali menernakkan babi.
Pardi sendiri tidak melakukan apapun kecuali duduk di kursi malas sambil menghisap kretek. Kadang tanpa disadari dia menguik seperti babi sembari memonyong-monyongkan moncong. Malam hari ketika Tati dan anaknya hendak tidur, ia kerap mendengar uik babi di luar. Ia tidak tahu bahwa uik babi itu keluar dari moncong Pardi, suaminya.
Ada sekitar 8 peternak babi di pedukuhan. Awalnya warga tidak setuju ada binatang haram bin menjijikkan masuk apalagi diternak di pedukuhan. Pardi bilang pada warga bahwa binatang ternaknya nanti tidak akan keluar pagar, dan warga akan aman. Namun mereka tetap kokoh dan tidak ingin menerima binatang itu. Akhirnya tak ada jalan lain selain tinggal di pinggir pedukuhan yang dekat sekali dengan sungai.
Satu hari ada teman Ika yang bernama Sulis datang ke rumahnya. Mereka berlari-larian di depan rumah. Babi-babi di kandang menguik dan terdengar cipratan lumpur. Karena Ika cape main lari-larian, ia ajak Sulis melihat babi-babi lucu di kandang, dan memperlihatkan anak babi di ruangan lain. Sulis ingin menyentuh anak babi itu, tapi karena pintunya ditutup ia tidak bisa menyentuhnya dan hanya melihat dari sela-sela pagar. Ika ingin membantu temannya, ia buka pintu kayu dan tiba-tiba anak babi itu keluar berhamburan.
