Pardi yang kebetulan tidak jauh dari sana segera menggiring empat anak babi ke tempatnya semula. Ika merasa bersalah karena kecerobohannya, tetapi Pardi memaklumi. Dia pun menggendong satu anak babi dan dijulurkannya pada Sulis.
Betapa senangnya Sulis ketika mengelus kepala anak babi. Ia baru pertama kali bertemu langsung dengan makhluk merah muda yang muncul di TV rumahnya. Ia berseru kegirangan seperti mendapat hadiah. Ia bertanya pada Pardi dengan polosnya, apakah makhluk kecil ini boleh dibawa ke rumahnya. Pardi tertawa karena kejujurannya.

“Kamu tidak boleh membawanya, bisa-bisa induk babi ini akan marah jika anaknya hilang,”
“Apa Sulis boleh bermain ke sini lagi?”
“Tentu saja,” jawab Pardi seraya mengelus kepala Sulis.
Sulis pulang seraya bernyanyi ria, melompat ringan dengan tangan membentuk pelangi. “Babi kecil yang lucu, janganlah berlari, tetaplah di sini bersamaku,”
Seperti anak pada biasanya, ia ceritakan semua hal baru kepada orang tuanya ketika sampai di rumah. Dan betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui bahwa anaknya pergi ke kandang babi dan mengelus binatang najis itu. Mereka mengomeli Sulis sampai ia menangis dan pergi ke belakang rumah.
Tersedu-sedu Sulis, “Apa kau tahu, ayam,” katanya pada ayam, “mama dan bapakku tidak membolehkanku main dengan anak babi. Kenapa mereka bilang babi itu binatang menjijikan? Mereka tidak tahu, babi-babi itu lucu sekali,” seperti mengerti perasaan Sulis, ayam di depannya mematuk-matuk tanah.
“Aku tidak tahu apakah besok bisa melihat mereka lagi. Sedih sekali rasanya,” ayam itu mengepakkan sayap lalu melihat Sulis dengan seksama.
Abdu dan Siti mulai resah ketika mengetahui anaknya bermain dengan binatang menjijikan itu. Bisa-bisa anaknya akan seperti keluarga Pardi. Mereka tidak ingin anaknya bermain bahkan membawa babi dari rumah Pardi. Tetapi mereka tidak tega melihat anaknya murung dan berbicara dengan ayam di belakang.
Sudah seminggu sejak kejadian itu, Sulis tetap murung dan bicara dengan ayam di belakang rumah. Ia tidak lagi main selepas sekolah, ia langsung pulang dan berbicara pada ayam-ayam. Abdu dan Siti tidak tahan melihat anaknya murung begitu. Mereka bahkan dicuekin dan tidak lagi makan bersama.
Abdu dan Siti pergi ke rumah RT dan melaporkan apa yang terjadi pada anaknya. Mereka tidak tahu harus salahkan siapa untuk kelakuan anaknya akhir-akhir ini. Mereka pun tahu jika babi-babi itu dipindah, Sulis akan tambah sedih karena tidak akan melihat untuk selamanya.
Pak RT yang sedari awal senyam-senyum berbicara setelah tamunya mengeluhkan apa yang terjadi.
“Sebentar lagi wabah akan datang dan meniadakan babi-babi di pedukuhan ini,” perkataan RT penuh misteri.
“Wabah?” tanya Abdu.
“Iya, satu wabah,”
“Bagaimana kalau wabah itu menjalar kepada warga?”
Pak RT terbahak. Dia membisikkan sesuatu pada Abdu, lalu Abdu membisikkannya pada Siti. Mereka tersenyum, bangkit dari kursi, dan bersalaman.
