Pasang ri Kajang, “Quran” Tanah Toa

Kedua, perlawanan kaum tani Kajang dan sekitarnya terhadap PT Lonsum, sebuah perusahan perkebunan modal asing yang berada di Bulukumba sejak 1921 dan beberapa kali berganti nama, yang dianggap menyerobot (reclaiming) 354,6 ha tanah adat. Peristiwa sengketa tanah yang memuncak pada Juli 2003 dan menelan 21 korban jiwa di pihak petani ini menghebohkan, memperoleh dukungan dari berbagai kalangan: masyarakat di luar Kajang, LSM, dan mahasiswa  se-Sulawesi Selatan (mereka berkemah di Kajang hingga beberapa bulan).

Beberapa orang tua dan saksi kedua peristiwa itu di Salasei (kira-kira 5 km timur Kajang) menuturkan bahwa pemberontakan perlawanan itu terinspirasi atau disemangati oleh ajaran Pasang ri Kajang. Ada tiga pesan terpenting dalam Pasang ri Kajang, yaitu: pesan tentang tata hubungan dengan Puang Ta’ala (Tuhan Yang Maha Esa); pesan keharusan menghargai manusia-kemanusiaan serta menegakkan dan menciptakan tatanan hidup dan kehidupan yang berkeadilan; dan pesan tata hubungan manusia dengan lingkungan ekologis. Ketiga pesan itu harus manifest dan diaktulisasikan dalam kehidupan konkret sosial ekonomi, politik, dan kebudayaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mungkin, kita memandang bahwa, hanya karena tidak tertulis, Pasang ri Kajang adalah mitos, bisa jadi. Mitos dalah mitos, tetapi ia bisa berubah menjadi mitologi, diwariskan dan ditafsirkan ulang lalu dimitologisasi dan re-mitologisasi dalam wujud dan bentuk yang sesuai dengan konteks sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Mitologi Tanah Toa, Pasang ri Kajang, misalnya, bisa bertransformasi menjadi gerakan perlawanan petani berurusan dengan agraria di Bulukumba pada 1962-1963 dan gerakan melawan PT Lonsum pada 2003. Orality memang boleh tumbang seperti yang diulas panjang oleh Walter J Ong (2013), tetapi semangat melawan yang terilhami oleh mitologi tak pernah padam.

Dalam konteks Kajang dan Buluumba, pertanyaannya adalah mana yamg lebih manifest atau actual? Al-Quran yang bergema di masjid dan musala setiap hari, tanpa peng-amal-an atau Pasang ri Kajang yang tidak besuara dan bagai “pesan bisu”, tetapi bergema di tatar kehidupan sosial ekonomi, politik, dan kebudayaan? Silakan renungkan sendiri.

Tinggalkan Balasan