Pasang Surut Santri Surakartan

Inilah tonggak islamisasi di Surakarta. Dengan dukungan penuh Sinuhun Paku Buwono X banyak pondok yang berdiri. Bahkan, Sinuhun sendiri memprakarsai berdirinya Pondok Pesantren Mamba’ul Ulum yang diasuh oleh Kiai Dimyati.

Pondok ini diperuntukkan mendidik calon raja dan juga penghulu keraton. Bahkan, Nancy K Florida menjelaskan bahwa selain pujangga, calon pejabat Keraton Kasunanan juga mengenyam pendidikan pesantren. Ini menunjukan sebagian besar pejabat Keraton Surakarta merupakan kaum santri. Maka tak heran bila kemudian berdiri wilayah di sebelah utara keraton dengan sebutan Kauman -akronim dari kampunge wong beriman. Dan dari pondok inilah kemudian kita akan mengenal tokoh sekaliber KH Syaifudin Zuhri, Mahbub Djunaidi, dan masih banyak lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selain di lingkungan Keraton Surakarta, kita dapat melihat di sebelah selatan keraton, tepatnya di daerah Pasar Kliwon tempat berkumpulnya habaib. Para cucu Nabi SAW berkumpul di Pasar Kliwon dengan mendirikan masjid yang diberi nama Masjid Assegaf. Selain mendirikan masjid, di Pasar Kliwon juga mereka mengadakan kajian-kajian Islam.

Perkembangan ini tak hanya terjadi pada elite Jawa dan juga kampung Arab Pasar Kliwon. Geliat ini juga menyentuh lapisan masyarakat.

Mari sejenak membaca sejarah kiri di Surakarta. Kita tentu bakal mengingat sosok Haji Merah, Haji Misbach. Haji Misbach melalui gerakan SATV (Sidiq, Amanah, Tableg, Vatona) kaum gerakan yang banyak diisi oleh para santri dan juga pedagang batik.

Melalui corongnya yang bernama Medan Moeslimin dan Islam Bergerak, dibantu oleh Mas Marco Kartodikromo, Haji Misbach memberikan perlawanan lewat tulisannya yang tajam dan membuat kumpeni panas kupinya.

Tinggalkan Balasan