Patung yang Memegang Kapak di Tangannya

Patung itu sudah menjadi pecahan kecil-kecil, runtukannya berceceran di atas lantai. Sesekali angin menyambar wajah sendu Anki, berbulan-bulan—bertahun-tahun ia membuat patung itu dengan peluh yang mengalir, kini hancur tak berbentuk. Kini hanya tinggal satu patung seukuran galon air mineral yang tengah memegang sebuah kapak di tangannya. Seolah ada seseorang yang memang sengaja ingin mengolok-ngolok Anki.

“Siapa yang tega melakukan semua ini padamu, Ki?” ucap salah satu santri yang turut menyaksikan kejadian malam itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jangan-jangan ada seseorang yang iri sama karyamu, Ki?” timpal yang lain.

“Aku jadi teringat sama kisah nabi Ibrahim yang pernah ustaz ceritakan minggu lalu.”

Anki hanya diam. Termenung. Tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-temannya. Ia mendongak—menatap bulan yang senantiasa mengambang di antara awan. Ia sangat ingin mengetahui siapa yang melakukan semua itu. Namun, karena tenaganya sudah terkuras tak tersisa, ia tak sempat untuk memikirkan seseorang yang tengah tersenyum di balik penderitaannya itu.

“Siapa suruh membuat patung. Seperti penganut agama pagan saja,” ucap Faisal menyela keheningan.

Anki hanya melirik, seolah tak peduli sudah dengan apa yang akan terjadi padanya. Namun tidak untuk teman-temannya yang sedang berdiri di sana. Perhatian mereka tertuju pada Faisal. Sorot mata mereka serupa harimau yang menemukan mangsa yang sudah lama dicari. Terutama Malik. Teman dekat Anki yang satu ini terkenal dengan sifatnya yang temperamental.

“Bajingan kau, Faisal. Ini semua kelakuanmu, kan!” Malik mulai menuding dan menjahanamkannya.

“Wah parah”

“Gila…”

“Sadis.”

“Kejam..”

Faisal diam tak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyumnya dengan dingin, memancing amarah santri lain untuk memuncak. Malik pun geram tak tertahan. Amarah Malik yang sudah di ujung tanduk, dengan cepat ia lesatkan pukulannya tepat di wajah Faisal. Faisal mengusap pipi kirinya, dengan mata perlawanan ia hendak memukul balik. Namun, Ustaz lebih dulu menghalang mereka. Dengan bambu perkasanya ia memukul semua santri yang berkerumun di tengah malam itu.

“Ayo berisik lagi!!” tegasnya, dengan muka merah padam.

“Kalian ini sudah tua, masih saja bersifat anak kecil. Minimal ingat umur sama waktu. Sekarang sudah jam tidur. Waktunya tidur, bukan malah berkelahi.”

Sejenak Ustaz berhenti, lalu menyapukan pandangannya pada tumpukan semen yang tergeletak di atas lantai. Ia berpaling menatap Anki yang tengah duduk tak berdaya. Ia paham betul yang tergeletak di lantai adalah patung milik Anki.

“Ada apa ini, Anki?”

“Kecelakaan, Ustaz,” jawab Anki sedikit memaksa.

“Faisal pelakunya, Ustaz. Dia telah menghancurkan karya Anki yang sudah susah payah dia buat,” Malik menyela.

Tanpa menunggu lebih lama, Ustaz tahu apa yang harus ia lakukan.

***

Ruang hening. Suara jangkrik sesekali berbunyi di antara mereka berdua, di antara Anki yang duduk berhadap-hadapan langsung dengan Faisal di atas kursi. Ustaz pun duduk di antara mereka berdua. Ia juga sadar bahwa Malik dan segenap teman-temannya tengah mengintip di balik pintu.

“Ustaz, dia membuat patung. Dia menyekutukan Tuhan kita,” Faisal memulai. Ustaz menatapnya, lantas beralih pada Anki.

“Tujuan saya membuat patung-patung itu murni untuk pameran, tak ada yang lain.”

“Saya berani bersumpah, demi tuha-”

“Halah, alasan dia saja itu, Ustaz. Sudah jelas-jelas kamu menyerupai dan mengikuti agama orang-orang pagan.”

“Sudah Faisal!! aku tak memintamu untuk bicara. Lagi pula Anki sudah bilang bahwa dia membuat patung hanya untuk pameran.”

“Tapi, Ustaz, selama saya mengaji kitab gundul, tak ada satu pun kitab yang memperbolehkan pembuatan patung, saya berani menjamin itu.” Faisal meyakinkan Ustaz yang amarahnya kian memuncak. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. Ia menatap wajah mereka berdua. Ia menemukan jalan keluar.

“Baiklah, untuk sementara, karena kiai masih berada di luar kota, saya ingin kalian berdamai. Jangan sampai membuat keributan di jam tidur lagi, atau kalian sendiri yang akan menanggung akibatnya,” tegas Ustaz. Namun Anki hanya mendongak, menatap Ustaz dengan mata kecewa. Belum sempat ia bicara, Anki beranjak meninggalkan mereka berdua.

Tak lama berselang, Faisal turut meninggalkan kantor pesantren dengan ekspresi tak indah pula. Namun, sebelum ia benar-benar melangkah keluar dari batas pintu, matanya menangkap pemandangan yang akan selalu mustahil ia percaya. Ia berdiri di tengah-tengah lautan luas tak berujung. Di depannya terdapat patung raksasa dengan wajah mirip kiai. Patung itu terbuat dari pecahan-pecahan kecil yang tak asing di benaknya.

Faisal menatap mata patung itu sendu. Ia merasa bahwa patung itu benar-benar mirip dengannya. Faisal berbalik—berharap pintu masih berada di sana, lantas ia bisa kembali pada dunia yang seharusnya ia tempati. Namun nihil, ia hanya melihat lautan dengan air ungu tak bertepi. Ruang itu sunyi, bahkan ia dapat mendengar denyut jantungnya sendiri. Sehingga kini ia yakin bahwa di sana hanya ada dirinya—hanya ada dirinya dan patung raksasa yang sedang berdiri di belakang dan senantiasa memperhatikannya.

“Wahai anakku yang malang…,” Faisal mendengar suara yang lagi-lagi tak asing di telinganya. Ia pun berbalik kembali untuk melihat patung itu.

“Sungguh baik niatmu untuk menolong saudaramu.” Kini ia dapat memastikan bahwa patung itu benar-benar bicara. Namun ia tak melihat mulut patung itu bergetar sedikit pun. Kini ia merasa bahwa dia berada di batas antara kenyataan dan khayalan.

“Namun, Faisal, kitabmu belum cukup untuk menyikapi patung-patung yang saudaramu itu buat.” Suara itu khas kiai, tetap dengan selingan tawa di antara pembicaraannya. Jantung Faisal berdetak tak teratur, matanya membelalak tak percaya. Ia sangat ingin berbicara lantas menjawab, namun apa daya, ia tak mampu mengucap satu kalimat pun. Seolah ada sesuatu yang menyumbat pita suaranya.

***

Faisal terperanjak bangun. Dengan napas tergesa ia bangun di kamarnya yang masih gelap gulita. Tak lama kemudian, benaknya memaksa beranjak menuju ruang kesenian untuk memastikan bahwa semua yang ia alami bukan sekadar mimpi belaka.

Dengan hati-hati ia melangkah di antara barisan teman-temannya yang sedang tertidur. Ia membanting pintu ruang seni. Hingga akhirnya ia mematung tak percaya.  Di sana, ia melihat Anki tertidur pulas di antara patung-patung yang berdiri tegak saling menatap satu sama lain. Seolah tak ada yang terjadi.

Tubuh Faisal bergetar tak dapat percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Ia mundur perlahan seraya menutup pintu rapat-rapat. Ia berdiri di balik pintu dengan jantung yang berdetak kencang. Ia mengangkat pandangannya—menatap bulan yang asyik berenang di antara kepulan awan.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan