Setelah itu, Toha masih membaca surat al-Fil dengan sangat khusuk hingga kepalanya menunduk. Pembacaan surat itu oleh Toha ditujukan pada seseorang yang telah membikin ulah padanya. Ketika sampai pada ayat keempat yang berbunyi “tarmiihim”, Toha mengulanginya berkali-kali dengan jari telunjuk yang menunjuk-nunjuk seolah sedang menusuk-nusuk sesuatu dan matanya semakin erat terpejam. Konon, jika sudah dibacakan surat al-Fil, orang itu akan ditimpa lekas musibah, atau jika tidak, orang itu akan segera sadar. Jika mencuri, barang curiannya akan segera dikembalikan. Jika menggunakan ilmu hitam, orang itu akan segera sadar dan menghentikan perbuatannya.
Setelah selesai, Toha bergegas menuju kontrakan Dulla untuk menceritakan masalah yang sedang dialaminya. Siapa tahu Dulla bisa memberikan solusi. Sebenarnya, Dulla sudah mengetahui hal itu, sebab kabar itu telah menyebar luas dan diceritakan dari mulut ke mulut orang.

Dulu, sebelum juga berdagang semangka, Dulla adalah sopir pikap. Mengangkut satu setengah sampai satu ton semangka Toha dari kampung. Tapi, beberapa minggu yang lalu, Dulla mengatakan bahwa dirinya akan berhenti menjadi sopir pikap. Dulla juga ingin menjadi saudagar sukses seperti Toha.
Toha senang mendengarnya, dan mendukungnya dengan meminjamkan uang cukup banyak sebagai modal awal. Kemudian Toha menawari Dulla sebuah toko yang tak terpakai untuk dijadikan tempat berdagang semangka sekaligus tempat tinggalnya. Lokasinya hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari lokasi toko yang ditempati Toha. Dulla sangat senang mendengarnya. Toha juga senang.
Setelah ikut berdagang semangka, Dulla rutin memberi Toha sebungkus nasi kuning setiap senja yang diantar oleh Nyi Marsina yang kata Dulla dipekerjakan sebagai tukang pengikat semangkanya. Toha senang akan hal itu. Meskipun mampu membeli nasi sendiri, tapi itulah bentuk penghormatan atas pemberitaan orang lain.
“Kita settong dhara (6), Cak!” kata Toha pada Dulla suatu waktu. Begitulah jiwa kemaduraan, saling membantu sesama saudara. Namun jangan sesekali menjatuhkan harga diri orang Madura, apalagi sampai merendahkan agama atau keluarga, maka celuritlah jalan keluarnya. Bukannya keras, tapi tegas!
“Bagaimana semangka-semangkamu bisa berubah aneh seperti itu, Cak? Para pelangganmu pun enggan untuk membeli lagi,” tanya Dulla tanpa basa-basi setelah menyambut kedatangan Toha.
Toha tak menjawab, hanya menggeleng lantas duduk di atas lincak, di samping tumpukan semangka.
“Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus tahu siapa orang itu dan segera balas dendam!” kata Toha kemudian yang dipungkasi dengan pukulan cukup keras pada lincak yang didudukinya hingga membuat Dulla terperanjat. Dulla menelan ludah seperti seseorang yang ketakutan.
Terjadilah percakapan panjang antara keduanya. Berkali-kali mereka menepuk bagian tubuhnya yang digigit nyamuk. Cuaca cukup dingin hingga mereka membungkus tubuhnya dengan sarung. Mereka tidak mengobrol di dalam. Kata Dulla, di dalam masih ada perbaikan dinding dan juga atap. Toha penasaran. Sebab, sejak pertamakali Dulla menginjakkan kaki di tempat itu, Toha tidak pernah masuk ke dalam toko tua itu. “Masih diperbaiki,” begitulah jawaban Dulla.
Dari percakapan panjang itu, mereka sepakat untuk meminta air yang sudah dibacakan mantra pada salah satu kiai atau dukun atau entahlah apa itu namanya. Air itu akan dibagikan-bagikan pada orang-orang. Konon, jika air itu mendarat di perut orang yang disasar, alias yang sudah berbuat ulah pada Dulla, maka perut orang itu akan kembung dan bengkak. Bisa-bisa, jika Allah berkehendak, bila sudah sampai tiga hari, orang itu akan sekarat.
Mula-mula Dulla tidak setuju, sebab menurutnya tidak baik menggunakan cara yang seperti itu. Dulla menyarankan untuk menggunakan cara yang lain saja. Namun, keinginan Toha tak tergoyahkan. Toha tetap bersikukuh untuk menggunakan cara seperti itu.
“Iya tidak apa-apa. Tapi, mohon maaf, saya besok mau pulang kampung. Istri saya akan memeriksakan kandungannya yang sudah berusia sembilan bulan,” putus Dulla kemudian. Toha mengangguk paham. Toha turut mendoakan.
Meski angin bertiup pelan, malam terasa mencekam dengan kilatan petir yang mengerikan. Gelap menyeramkan. Langit diselimuti awan. Tak ada sinar bulan, lampu-lampu pun padam. Suara klakson berbagai macam kendaraan di depan warung Toha saling bersahutan, mencipta kebisingan. Burung gagak yang hinggap di atas bangunan berlantai empat di sebelah warung Dulla itu tak henti-henti berkoak-koak seperti sedang mengabarkan kematian. Di sekitarnya, kunang-kunang berterbangan. Sedang di dalam, Toha tersenyum kemenangan. Toha duduk di atas lincak di dalam kontrakannya sembari menghisap sebatang rokok ditemani secangkir kopi. Toha yakin, air itu akan memakan korban.
“Mati kau se pate’!” lantang Toha bersuara.
Tiga hari yang lalu, Toha telah membagi-bagikan air itu dengan modus air khatmi qur’an. Namun, Toha sangat menyayangkan, Dulla tidak bisa mendampinginya. Sebab, tak lama setelah itu, Dulla langsung pulang kampung yang telah katanya ditelepon ayahnya. Tidak lupa, Dulla juga membawa air itu satu botol untuk menghindar dari buruk sangka meskipun itu tidak mungkin.
