Pedagang Semangka

“Biar semuanya sama, air ini akan saya minum ketika sampai di rumah, biar langsung sakarat nanti,” kata Dulla, bercanda.

Toha menggeleng sambil tertawa dan menepuk pundak Dulla. “Semoga masalah ini cepat selesai, Cak!” ucap Dulla pada Toha sebelum pulang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kring….!

Ponsel Toha berdering.

“Iya, siapa?”

“Ini saya Juminten, Kak, istrinya Dulla.”

“Oh, iya ada apa, Lek?”

“Su-su-ami saya meninggal, Kak!”

“Apa?!”

Toha langsung mematikan ponselnya. Napasnya tersengal-sengal. Matanya membulat seolah ingin keluar dari kelopaknya. Toha berlari dengan tergesa-gesa menuju warung Dulla. Dan, di sana Toha melihat warung dan semangka-semangka Dulla telah dikerubungi ulat-ulat menjijikkan yang jumlahnya entah. Toha bergegas masuk ke dalam warung itu. Sebisa mungkin Toha menghindar agar kakinya tidak menginjak ulat-ulat menjijikkan itu. Setelah beberapa kali, akhirnya Toha berhasil mendobrak pintu.

Sesampainya di dalam, di atas lincak yang terletak di sebuah ruangan yang penuh dengan jaring laba-laba, dengan bantuan senter HP-nya, Toha menemukan tampah rotan yang berisi jajan genna’ (7), beberapa macam kembang dan taburan beras kuning yang juga sudah dikerubungi ulat-ulat.

Toha mengepalkan tangannya sangat kuat, matanya terbelalak setelah melihat foto istrinya saat masih remaja yang di belakangnya bertuliskan: engko’ esto ka ba’na, Le’ (8) bersanding dengan fotonya sendiri yang bagian wajahnya ditusuk-tusuk. Di sebelah tampah itu, Toha menemukan sebuah nota pembelian sepeda motor dan juga kulkas sebesar tiga puluh juta. Belum selesai, Toha dikejutkan dengan sosok Nyi Marsina yang sudah terkapar tak berdaya penuh darah. Tubuhnya diikat dan mulutnya dibekap di pojok ruangan, di belakang lemari itu.

Tiba-tiba terbayang di benak Toha bagaimana sesungguhnya Dulla seperti semangkanya yang dagingnya seperti kapas, berwarna hitam, berbau busuk dan kerubungi ulat-ulat menjijikkan meski kulitnya masih tampak hijau segar dan selalu menarik perhatian.

Annuqayah, 22/02/2022

Catatan:

1. pate’: anjing
2. babaja: leluhur
3. keyaji: kiai kampung
4. rasol: tampah atau wadah berisi nasi, telur, aneka makanan tradisional, kuah, dan satu lembar uang
5. damar: pelita
6. settong dhara: satu darah
7. jajan genna’: makanan tradisional yang lengkap tujuh macam.
8. engko’ esto ka ba’na, Le’: aku sayang kamu, dik.

Tinggalkan Balasan