Pegayaman: Jejak Islam di Pulau Dewata

Menurut sejarah, Islam berkembang di Pegayaman sejak sekitar tahun 1500 Masehi, berawal dari kunjungan Raja Buleleng, yaitu Anglurah Ki Barak Panji Sakti ke Keraton Mataram. Ketika kembali, Raja Mataram menghadiahi gajah dan mengutus 8 prajurit untuk mengawal sang raja sampai Buleleng. Setelah sampai Buleleng, Raja Panji Sakti menawarkan tanah untuk ditempati para prajurit Mataram tersebut yang kemudian dikenal Pegayaman.

Para prajurit ini akhirnya menikah dengan putri Bali dan melahirkan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi penduduk Pegayaman. Masyarakat Pegayaman juga berinteraksi dengan warga Islam dari Bugis yang berlabuh di pesisir Buleleng. Warga Bugis ini kemudian juga menetap di Buleleng. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi warga Pegayaman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perayaan Hari Besar Islam

Sebagai mana pemeluk agama Islam pada ummnya, umat Islam Pegayaman juga merayakan hari besar Idul Fitri dan Idul Adha. Saat Ramadan, mereka juga menggelar salat tarawih. Namun, pelaksanaan salat tarawih biasanya dilaksanakan lebih malam dibanding tempat lain, yaitu sekitar jam 23.00 WITA. Adapun, salat Id yang biasanya dilaksanakan sekitar pukul 06.00-07.00 WITA, di Pegayaman dilaksanakan pukul 10.00 WITA.

Perbedaan waktu ini berdasar pertimbangan wilayah Pegayaman yang bergunung dan jarak rumah penduduk ke masjid yang cukup jauh. Warga memerlukan waktu lebih lama untuk sampai ke masjid. Selain itu, salat Idul Fitri dilaksanakan lebih siang dengan pertimbangan memberi waktu lebih kepada warga untuk membayar zakat fitrah mengingat ketentuan zakat fitrah yang dibayarkan sebelum salat Idul Fitri.

Berbeda dengan pemeluk agama Islam di wilayah lain, Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan puncak perayaan keagamaan di Pegayaman. Ketika Maulid Nabi, penduduk Pegayaman yang merantau akan mudik untuk merayakan maulid bersama keluarga.

Tinggalkan Balasan