Karuan saja, cuplikan ceramah Cak Nun tersebut dibanjiri kontroversi yang memenuhi ruang publik. Tak lama kemudian, melalui video serupa, Cak Nun membuat klarifikasi dan di momen itulah ia mengaku sedang kesambet.
Pintu Politisasi Agama

Dalam kutipan pernyataan Cak Nun tersebut terkandung dua premis dengan dua domain yang berbeda, namun keduanya berkelindan. Yang pertama berada di domain profan dan yang kedua di domain keagamaan.
Pada premis yang pertama, pernyataan Cak Nun berkaitan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Dari premis itu dapat ditarik kesimpulan, Pemilu 2024 sudah diatur dan ditentukan pemenangnya. Dengan demikian, Pemilu 2024 adalah pemilu boong-boongan lantaran pemenangnya sudah diatur jauh sebelumnya, dan mereka yang bukan bagian dari kelompok pengatur tidak akan mungkin menjadi pemenang.
Siapa yang mengatur? Di situ Cak Nun memberi jawaban tanpa tedeng aleng-aleng. Narasinya begini: pemenangnya sudah bisa ditentukan jauh sebelum pemilu dilaksanakan karena Indonesia telah dikuasai oleh “Firaun, Qarun, dan Hamman” yang bernama Jokowi, Anthoni Salim, dan Luhut Binsar Pandjaitan.
Jika dilakukan pembacaan lebih gamblang lagi, akan terlihat seperti ini: persekongkolan antara Presiden Joko Widodo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut B Panjaitan, dan didukung taipan Anthoni Salim plus Sembilan Naga inilah yang telah mengatur dan menentukan hasil Pemilu 2024. Siapa pun, di luar circle persekongkolan tiga kekuatan besar ini, tidak akan bisa menjadi pemenang pemilu.
Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Sebab, menurut Cak Nun dalam kutipan berikutnya, Indonesia telah sedemikian sempurna dikuasai tiga kekuatan besar tersebut, dengan simbol Jokowi, Luhut Pandjaitan, dan Anthony Salim. Seluruh sistem dan perangkat negara beserta alat-alat politik Indonesia berada sepenuhnya dalam kendali Jokowi. Begitu absolutnya kekuasaan Jokowi, hingga Cak Nun menyebutnya sebagai Firaun.
